Sabtu, Oktober 10, 2015

Gudeg, Emang Ngangenin

Sepiring nasi berisi gudeng, ayam kampung, sambal goreng krecek tersaji di depan saya. Segelas es teh manis melengkapi nikmatnya makan siang. Saya menyukai kuah gudeg yang disiram di nasi. Menikmati gudeg menjadi salah satu pilihan saya. Tak hanya saya, keluarga pun menyukai gudeg. Bahkan, kami memiliki rumah makan gudeg langganan di kawasan Pasar Minggu, Jawa Timur selama hampir tujuh tahun. Meksipun tidak berasal dari Jogjakarta, rasa gudeg yang khas terasa pas di lidah.

Ya, gudeg yang merupakan makanan khas Jogjakarta. Beberapa hari lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memilih gudeg menjadi salah satu yang termasuk dalam Warisan Budaya Nasional. Rencananya penyerahan sertifikat Warisan Budaya Nasional akan diberikan pada 20 Oktober mendatang. Cita rasa dari makanan yang berbahan dasar nangka muda ini memang unik. Bagi sebagian orang yang tak menyukai rasa manis, gudeg terkadang tak menjadi pilihan. Namun rasa manis gudeg itulah yang membuat lidah selalu ingin menyantap gudeg.

Mengenal gudeg, teryata ada beberapa varian gudeg antara lain:
a.        Gudeg kering yakni gudeg yang disajikan dengan areh kental. Lebih kental daripada santan pada masakan padang
b.       Gudeg basah yakni gudeg yang disajikan dengan areh encer
c.        Gudeg solo yakni gudeg yang arehnya berwarna putih 

Bagaimana sejarah gudeg? Tak ada yang mengetahui secara pasti. Mengutip dari website gudegkaleng.to2k.com ada peryataan dari Prof Murdijanto Gardjito, ahli gizi dari Pusat Kajian Makanan Tradisional Universitas Gajah Mada. Disebutkan bahwa gudeg sejak ada sejak tahun 1819-1820. Dalam serat Chentini menyebutkan gudeg muncul tanpa sengaja. Pada saat penjajahan, beberapa komoditas pertanian menjadi andalan pemasukan keuangan pemerintah. Jati adalah komoditas utama yang menjadi andalan. Ini berbeda dengan nangka yang dianggap tidak memiliki nilai jual ekonomis. Padahal, hampir semua rakyat memiliki tanaman nangka. Alhasil masyarakat pada masa itu diberikan keleluasan untuk memanfaatkannya. Nah, dari situlah warga kemudian mengolah nangka muda menjadi makanan bernama gudeg.

Namun ada juga kisah awal mula nama gudeg. Alkisah, ada pria Inggris yang menikah dengan orang Jawa. Kepada sang istri, pria itu memanggil ‘dek’. Usia pulang kerja, sang istri binggung memasak apa. Kemudian terlintas di pikirannya memasak menggunakan resep turun temurun keluarga yang menggunakan bahan dari nangka muda. Saat makan, pria Inggris pun memakan dengan lahap kemudian berkata “good dek’, “It’s good dek”. Sang istri itu menceritakan makanan berbahan bahan nangka kepada orang lain. Makanan itu yang kemudian diberi nama gudeg.

Gudeg berbahan utama nangka. Nangka masuk dalam suku Moraceae dan memiliki nama latin artocarpus heterophyllus. Ada yang mengaitkan antara gudeg sebagai makanan dari Keraton Yogyakarta. Namun, ada lagi yang mengatakan jika gudeg telah lama ada sejak penyerbuan pertama ke Batavia pada 1726-1728 oleh Sultan Agung. Tinggi pohon nangka 10-15 cm dengan ukuran batang tegak dan berwarna hijau. Nangka muda mengandung albuminoid dan karbohidrat (ccrc.farmasi.ugm.ac.id). Tak hanya itu saja, nangka mengandung kadar lemak yang rendah sehingga baik dikonsumsi oleh orang-orang yang memiliki masalah berat badan. Siapa duga nangka terbukti merupakan sumber vitamin C yang memiliki antioksidan yang tinggi. Di tambah lagi, nangka mengandung phytonutrient yang dapat mencegah kanker dan tekanan darah tinggi.

Membuat gudeg, bukan perkara mudah. Memasak gudeg membutuhkan ketelitian, waktu yang tak sedikit dan kesabaran. Bahan utama gudeg adalah nangka muda. Selain nangka, dibutuhkan air, daun jati muda, gula merah, lengkuas, daun salam dan santan. Saya lampirkan bahan-bahan serta cara pembuatan gudeg. Resep ini saya peroleh dari Sajian Sedap.com.

Bahan-bahan :
800 gram nangka muda, dipotong-potong 2 cm
5 lembar daun jati
2 cm lengkuas yang dimemarkan
2 lembar daun santan
1000 ml santan dari 1 ½ butir krlapa
1000 ml air kelapa muda
½ ekor ayam dipotong 4 bagian

Bumbu halus :
15 butir bawang merah
6 siuang bawang putih 
8 butir kemiri
2 ½ sendok makan ketumbar
135 gram gula merah
½ sendok garam


Cara membuat :
1.       Masukkan semua bahan ke dalam panci kecuali ayam. Aduk rata
2.       Masak sambil diaduk sesekali hingga cairan sisa setengah bagian. Masukkan ayam. Aduk rata
3.       Tutup panci. Biarkan di atas api kecil hingga kuah mengering dan bumbu meresap
4.       Siap dinikmati bersama keluarga J

Lalu bagaimana jika ingin membawa gudeg hingga ke luar kota bahkan hingga ke luar negeri? Kini, gudeg telah dikemas di kaleng sehingga awet dikonsumsi hingga ke luar negeri. Mulai dari Singapura, hingga Inggris telah menerima gudeg yang dikemas di dalam kaleng. Jadi, walaupun berada di negeri orang, tetap bisa menikmati gudeg.







Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar