Jumat, September 04, 2015

Sebagai Seorang Ibu yang Bekerja



Ini perdebatan lama. Perdebatan usang. Selalu saja ada pertanyaan “Pilih mana. Jadi ibu bekerja atau ibu di rumah atau ibu bekerja di rumah?” Sejak dulu saya memilih sebagai ibu bekerja. Kenapa? Bukan karena saya tidak sayang kepada anak sehingga saya memilih bekerja. Apa karena bekerja jadi tak sayang anak ? Oh tidak. Saya bekerja karena ini pilihan saya dan disepakati bersama keluarga. Walaupun saya bekerja, sejak dulu saya menghabiskan waktu dengan anak saat saya di rumah. Pulang kerja mungkin capek, tapi capek itu reda saat melihat senyum anak. Senyum itu reda saat memeluk anak dan mendengarkan ceritanya. Jika saya bekerja, anak tak segan menelpon. Saya pun sebaliknya. Menelponnya untuk sekedar bertanya apapun. Saat saya pulang kerja, dia selalu minta belajar bersama, memeluknya saat dia hendak tidur. Untuk makan, saya sering menyuapnya, menemaninya bermain dan selalu bersamanya.

Saat anak masih kecil, dia pernah menangis saat saya pergi kerja. Saya memilih memeluknya, menemaninya hingga tangisnya reda baru kemudian pergi kerja. Beberapa hari lalu, saat saya berangkat kerja, Ayyas terbangun dan menangis pela. “Aku cuma mau saya ummi,” tangisnya pelan. Saya memeluknya dalam tidur, menghapus air matanya dan berkata “Nanti kita main lagi ya, dek. Ummi kerja dulu”. Sang suami pun mengambil alih untuk menangani Ayyas. Inilah peran suami istri bekerja sama mengasuh anak.

Ada teman saya awalnya bekerja kemudian memilih berhenti kerja untuk menemani anaknya. Saya, sebagai sahabatnya memeberikan dorongan semangat atas apapun pilihannya. Kita tak berhak menghakimi ketika ada yang memutuskan bekerja atau tidak bekerja.

Bagi saya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika memutuskan untuk memilih sebagai ibu bekerja :
1.       Keputusan sebagai ibu bekerja di ambil berdasarkan pilihan sendiri dan tanpa paksaan. Komitmen suami sangat dibutuhkan jika memilih sebagai ibu bekerja. Suami saya sangat mendukung langkah saya sebagai ibu bekerja
2.       Koordinasi dengan suami jika ada urusan anak yang tidak bisa diselesaikan. Terkadang, seorang ibu ingin mengerjakan urusannya sendiri. Ingin bisa masak, menemani anak, bersihkan rumah, kerjakan semua urusan sendiri. Capek, bu jika memilih seperti itu. Bagi tugas dengan suami agar urusan menjadi lebih mudah
3.       Jika libur atau sudah di rumah, fokus menemani anak. Urusan kantor, tinggalkan di kantor. Anak tentu butuh perhatian lebih. Janganlah fisik di rumah, tapi pikiran di kantor
4.       Kantor yang baik tentu mendukung peran kita sebagai ibu bekerja. Namun jangan mentang-mentang sebagai ibu bekerja kemudian memilih keistimewaan dibandingkan karyawan lain. Walaupun memang ada beberapa aturan dalam UU Tenaga Kerja yang mengatur tentang Perempuan Bekerja
5.       Kerjasama dengan sekolah terutama wali kelas sangat dibutuhkan. Jika ada pekerjaan rumah atau catatan penting, bisa disampaikan dengan segera ke wali kelas. Demikian pun sebaliknya. Saya beruntung sekolah Ayyas sangat mendukung koordinasi antara orangtua dan wali kelas.
6.       Lingkungan rumah yang baik adalah lingkungan rumah yang saling menjaga. Memiliki tetangga yang mau membantu ke rumah jika ada yang penting, adalah kebahagiaan tersendiri. Dan saya memiliki itu.
7.       Asisten Rumah Tangga (ART) yang baik mampu mengkomunikasikan dengan baik tentang anak saat kita tak disamping. ART yang baik juga adalah ART yang amanah dan menjaga anak dengan baik.
8.       Paling penting, selalu berdoa agar keluarga selalu dilindungi oleh Allah. Kepada siapa lagi kita berdoa?

Apapun keputusannya, ambilah dengan bijak. Tanpa tekanan dan paksaan. Demi anak, seorang ibu tentu tahu mana yang harus dilakukan. Suami pun demikian. Silakan mengambil keputusan ya, bu ….

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar