Selasa, April 14, 2015

Satu Bus ke Bandung

“Assalamu Alaikum, jangan sampai telat ya kumpul”. Masih pukul 5 pagi saat saya menerima pesan bbm dari salah satu orangtua siswa. Terlalu pagi memang, tapi saya tahu bahwa berangkat ke Bandung memang harus secepatnya. Jumat, 3 April saya dan rombongan orangtua TK Al Biruni berencana ke Bandung menggunakan bus. Agendanya rombongan ke Rumah Sosis, makan siang di Warung Nasi Pengkolan, ke Floating Market kemudian ke Ciampelas dan berbelanja di Kartika. Untuk agenda sebanyak itu, menurut saya, berkumpul setengah 6 pagi adalah waktu yang tepat. Ayyas yang senang akan berjalan-jalan bersama teman-temannya, tak sulit di ajak bersiap-siap. Bapak kemudian menggunakan sepeda motor saya dan Ayyas menuju kantor Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBIK Lapan). Tiba di BBIK, baru berkumpul tiga orang dewasa dan tiga orang dewasa. Langit pun masih gelap. Setengah jam kemudian bus pun tiba. Rombongan yang mayoritas terdiri dari perempuan dan anak-anak pun bersegera masuk ke dalam bus. Hanya saja, tak semua orang menepati waktu berkumpul sesuai waktu yang ditentukan. Bahkan masih ada yang baru tiba pukul 06.30.



Akhirnya hampir pukul 7 pagi, bus pun melaju memecah kemacetan. Berangkat yang terlalu siang tentu saja berdampak kemacetan. Rencana awal tiba pertama di Rumah Sosis akhirnya berubah.  Rombongan langsung makan siang di Warung Nasi Pengkolan. Walaupun namanya warung, namun ukurannya cukup besar. Makanan yang disajikan masih panas. Saya suka bihun gorengnya yang menurut saya nikmat. Selebihnya, menurut saya standar, apalagi sambalnya tak terasa pedas sama sekali bagi saya penggemar sambal. Usai makan, kami langsung menuju floating market yang terdapat di Jalan Grand Hotel No 33 E, Lembang. Jarak tempuh dari Warung Nasi Pengkolan sekitar satu jam. Tiket masuk floating market sebesar Rp 15 ribu. Tiket masuk itu dapat ditukar dengan segelas minuman hangat.

Hujan menyambut kami saat tiba di floating market. Saya bersyukur membawa tas dan jas hujan di tas. Tak perlu membeli payung atau jas hujan seperti yang lain. Namun tetap saja, mengunjungi floating market di tengah derasnya hujan tak begitu menyenangkan. Tapi menyenangkan atau tidak tergantung bagaimana kita menikmatinya kan?



Menggunakan jas hujan dan payung, saya bersama rombongan mendatangi berbagai kios yang terdapat di floating market itu. Ada kios yang khusus menjual makanan yang organik atau tradisional. Misalnya ada teh hijau, jamu-jamuan dan sebagainnya. Saya berjalan dengan Mirza dan mamanya, Mutiara dan mamanya, serta tentu saja Ayyas. Namun bukannya membeli, kami semua malah asyik berpose dan bahkan meminta pegawai disana untuk memotret. Hahhaaa

Usai dari makanan tradisional, kami menuju kios yang menjual beraneka bunga-bunga plastik dan kertas. Suasana di kios itu penuh warna- warni. Namun lagi-lagi kami tidak membeli tapi asyik berpose untuk difoto lengkap dengan jas hujan. Ada satu kios yang kami lewati yakni kios yang menjual boneka. Kuatir kalau masuk ke sana, anak-anak meminta beli beraneka macam. Hehhehe



Rombongan pun terpecah karena Mirza minta pergi bersama Ayahnya. Sehingga rombongan hanya tersisa saya dan Ayyas serta Mutiara dan mamanya. Rombongan yang lain, terpisah dari kami. Rombongan yang hanya berjumlah empat orang ini kemudian berjalan menikmati suasana floating market. Floating market ini luasnya mencapai 7 hektar dan buka sejak pukul 09.00 hingga 17.00. Kecuali weekend buka hingga pukul 20.00. Kami tertarik untuk naik perahu sambil mengelilingi danau di floating market. Tapi keinginan itu urung dilakukan karena antriannya sangat banyak. Akhirnya, kami memilih menemanin anak-anak bermain di taman Kelinci. Untuk masuk ke Taman Kelinci, wajib membeli tiket masuk seharga Rp 20 ribu untuk memberi makan kelinci. Kami membiarkan anak-anak masuk ke dalam Taman Kelinci karena jika orangtua menemani harus membeli tiket juga. Toh, kami bisa mengawasi anak-anak dari luar.

Usai bermain di Taman Kelinci, kami sempat mengunjungi lokasi penjualanan makanan yang unik. Jadi, para penjual beserta masakannya berada di perahu yang berada di atas danau. Beraneka makanan mulai dari rujak, siomay, batagor, sosis dan sebagainnya. Namun, kami tak berniat membeli apapun. Tak terasa, hampir dua jam kami berada di floating market. Pukul 16.00 WIB, kami sudah tiba di bus sesuai waktu yang ditentukan. Namun, masih ada juga yang baru tiba di bus pukul 17.00 WIB. Alhasil, tujuan kedatangan ke Rumah Sosis pun terlambat. Tiba di Rumah Sosis, permainan anak sudah ditutup. Hanya ada kios yang menjual sosis dan warung oleh-oleh. Saya hanya membeli sosis bakar seharga Rp 15 ribu untuk Ayyas dan di warung oleh-oleh hanya membeli dua yogurt dan satu ice cream. Usai dari Rumah Sosis seharusnya kami berencana ke Cihampelas. Namun, karena sudah terlalu malam akhirnya batal ke Cihampelas dan hanya membeli oleh-oleh di rest area. Saya tak bisa membayangkan jika kami tetap memaksa ke Cihampelas tentu anak-anak yang kasihan. Saya bersyukur bisa tetap ke Bandung, bersama Ayyas. Tertawa dan bahagia bersamanya ….


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

2 komentar:

  1. AYo mbak Alida ke bandung lagi nanti saya sama krucil temenin, sambil ngajakin ke tempat makan enak di bandung banyak hihi..
    Floating market emang ga jarang jadi floating people juga ehehhee

    BalasHapus
  2. Asyiikkk. Alhamdulilllaah. Makasih mbaaa

    BalasHapus