Rabu, Desember 30, 2015

Kepada Sesama, Mari Peduli Bersama PMI

Saya masih ingat peristiwa beberapa tahun lalu. Suami yang biasanya pulang tepat waktu terpaksa harus pulang lebih malam daripada biasanya. Bukan karena urusan pekerjaan, namun ada rekan sekantornya yang membutuhkan donor darah. “Saya harus ke kantor PMI di Kramat Raya,” katanya saat menelpon saya. PMI adalah kepanjangan dari Palang Merah Indonesia. Berangkat dari kantor pukul 18.00 WIB, suami datang bersama ketiga teman sekantor. Rekan sekantornya yang membutuhkan darah mengalami komplikasi sehingga dibutuhkan tambahan donor darah B. Suami dan ketiga temannya kebetulan memiliki golongan darah B.

Sabtu, Desember 26, 2015

Perjalanan Mencari Kebahagiaan



Sebuah kisah dalam kehidupan tak selamanya manis. Terkadang pahit, namun mau tak mau harus dialami. Takkala kisah tak manis itu hadir dalam kehidupan, sebuah pencarian pun dilakukan. Pencarian tentang kebahagiaan. Dan, ada berbagai cara melakukan pencarian kebahagiaan. Salah satunya melalui perjalanan. Melalui buku berjudul “Passport to Happiness. 11 Kota 11 Cerita Mencari Cinta” karya Ollie, ia membagi perjalanannya mencari kebahagiaan.




Kenangan Tentang Mama

Telepon genggam saya berdering. Satu nama tertulis, Mama. “Chi, datang ke Surabaya. Ada yang harus mama bilang,” kata mama melalui sambungan telepon di bulan Maret 2009. Chici adalah panggilan saya oleh keluarga terdekat. Kala itu, saya baru saja keluar dari dokter kandungan saat menerima telepon dari mama. Dokter kandungan menyarankan saya untuk bedrest karena flek yang muncul. Usia kandungan saya tiga bulan. Mendapat telepon dari mama saat kondisi saya yang tak fit membuat saya sempat binggung. Namun setelah berdiskusi dengan suaminya, saya memutuskan berangkat dari Jakarta ke Surabaya keesokan harinya.

Kamis, Desember 24, 2015

Saat Vertigo Kambuh

Dua malam menginap di RS Asri Duren Tiga, Jakarta Selatan karena vertigo adalah pengalaman pertama saya. Vertigo bukan penyakit baru bagi saya. Sudah sejak 2009 saya menderita vertigo. Saya pernah mewawancarai dokter  Muhammad Kurniawan, ahli syaraf di Rumah Sakit Asri Duren Tiga pada Maret 2010. Vertigo menurutnya merupakan suatu sensasi berputar terhadap diri sendiri atau lingkungan akibat gangguan di pusat keseimbangan. Penderita akan merasa dirinya berputar atau lingkungannya yang berputar. Vertigo terbagi atas dua yakni vertigo vestibular dan vertigo non vestibular . Vertigo vestibular gejalanya, kepala akan pusing tujuh keliling. Sedangkan gejala vertigo non vestibular adalah penderita akan merasa bergoyang. Nah vertigo vestibular terbagi atas dua yakni di pusat dan di tepi. Kalau di pusat, berarti ada gangguan keseimbangan di daerah otak kecil atau di batang otak.

Senin, Desember 21, 2015

Kisah Anak Jalanan di Kingsman: The Secret Service



Bermula dari anak jalanan menjadi mata-mata organisasi rahasia. Itulah perubahan Eggys (Taron Egerton), seorang anak agen mata-mata yang meninggal dunia karena menyelamatkan rekannya yang bernama Harry (Colin Firth). Namun menjadi mata-mata bukan perkara mudah. Eggys harus bersaing dengan delapan remaja lain yang mengikuti seleksi untuk menjadi agen Kingsman, organisasi mata-mata dunia.



Jumat, Desember 18, 2015

Mendambakan Transportasi Umum Aman dan Nyaman



Jam di dinding menunjukkan pukul 05.00 WIB di hari Jumat, 18 Desember 2015. Terburu-buru, saya memesan gojek melalui aplikasi. Tujuannya untuk di kantor kawasan Palmerah, Jakarta Selatan. Ini pertama kali saya memesan aplikasi gojek untuk ke Palmerah, dua kali sebelumnya saya menggunakan gojek untuk wilayah Duren Tiga, Jakarta Selatan. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, gojek tiba di dekat rumah saya. “Apa nggak naik kereta saja? Agak gerimis,” kata suami. Saya katakan ingin naik gojek ke kantor agar lebih cepat. Walaupun agak macet, sekitar 30 menit perjalanan, saya pun tiba di tempat tujuan.


Selasa, Desember 08, 2015

Saya, Jurnalis dan Pemilu

Besok, 9 Desember 2015, di 269 daerah diselenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Karena bertempat tinggal di Jakarta Timur, saya pun tidak memilih. Saya ingat sejak memiliki hak untuk memilih sejak berusia 17 tahun, saya memilih untuk masuk dalam golongan putih (golput). Memang bukan sesuatu yang membanggakan. Namun kala itu saya merasa belum memiliki pilihan untuk dipilih. Namun pada tahun 2014, saya kemudian dengan sadar memilih apa yang saya anggap terbaik. 





Sebagai jurnalis, saya kerap melakukan peliputan politik. Sejak 2006, saya lebih banyak melakukan peliputan di salah satu partai politik. Namun bukan berarti saya tidak melakukan peliputan di partai politik lain. Namun porsi terbanyak memang di salah satu partai politik itu. Berbagai kegiatan yang dilakukan di partai politik itu saya ikuti. Saya ingat tahun 2006, di undang meliput di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Undangan meliput pada pukul 07.00 WIB, namun janjian dengan rekan narasumber ke lokasi pada pukul 06.00 WIB. Liputan itu tentang kampanye akbar di bumi perkemahan. Sialnya, saya ketiduran di kantor karena semalam deadline mengerjakan penugasan. Hmm, saya sih memang sering tidur di kantor dan itu hal biasa di tempat saya dulu. Saat ditelepon, saya terkejut melihat jam yang melingkar di tangan. Tanpa mandi  dan hanya sikat gigi dan ganti baju, saya pun meluncur ke tempat janjian dengan narasumber. Saya bersyukur berhasil tampil rapi dan sopan di hadapan narasumber. Maafkan ya .... . Jujur, saya orang yang selalu tepat waktu saat liputan. Tapi waktu itu, saya khilaf ... 


Kerap melakukan meliput di satu partai politik membuat saya memiliki akses untuk melakukan peliputan mendalam. Melakukan wawancara dengan konstituennya, para pengurus dan ketua saya bisa lalui. Jika ada rencana kegiatan, saya pun selalu dikabari. Apabila saya membutuhkan nomor telepon salah satu pengurus, saya kerap di bantu. Maklum, kebutuhan untuk meliput cepat dan tepat selalu menjadi rutinitas. Namun bukan berarti kerap meliput saya tidak seimbang dalam peliputan. Ketika partai tersebut sempat ‘terbelah’ saya melakukan wawancara dengan pihak pro dan kontra. Tanpa terbebani dengan praduga “Nanti kalau saya wawancara si A, si B ngggak bakalan mau saya liput lagi”. Tapi saya ingat saat melakukan wawancara dengan pihak kontra, saya diajak ngobrol ngalur-ngidul hingga dua jam sebelum narasumber ini mau berbicara sesuai dengan penugasan saya. Namun sejak dia mengetahui saya netral, dia kerap memberikan informasi kepada saya. “Mba Alida, sudah tahu belum kalau ....,” bunyi pesan pendeknya kepada saya. 


Bagi saya, melakukan peliputan partai politik jurnalis tetap harus netral. Menolak pemberian uang atau barang yang dapat mempengaruhi pemberitaan. Sejak dulu dan hingga kini, saya tidak pernah menerima pemberiaan uang atau barang dari partai politik yang saya liput. Reputasi dan dedikasi adalah ‘harga mati’ yang harus dipegang seorang jurnalis.



Oh ya, untuk besok, jangan ragu memilih. Pergunakan hati nurani dan akal sehat.   




Sumber foto : http://www.antarasumbar.com/        


Rabu, Desember 02, 2015

Mengapa Komentar di Blog Menghilang?

Sore ini membuka blog saya dan saya terkejut. Komentar di blog saya hilang tak berbekas. Iya, hilang …

Saya tidak pernah menghapus komentar-komentar di blog saya. Iya, bukan saya yang menghapusnya. Semuanya baik-baik saja selama ini. Senin, perpindahan domain dari blogspot milik saya ke dot com berlangsung sukses. Saya senang sekali. Tak ada yang berubah. Hanya dari blogspot dot com saja yang berubah. Komentar di blog masih ada, postingan masih ada, label dan desain pun masih sama.

Rabu, November 25, 2015

Berkat Bimbingan Guru


Jika sebelumnya saya menulis ucapan terima kasih kepada guru saya. Kali ini saya ingin mengucapan terima kami kepada bunda-bunda saat Ayyas masih duduk di Taman Kanak-Kanak (TK) Al Biruni. Kepada guru di TK, saya memanggilnya Bunda, Ayyas belajar banyak hal. Bunda di TK Ayyas sangat memperhatikan Ayyas. Kasih sayang yang diberikan kepada Ayyas begitu tulus. Bunda pun sangat responsif untuk melaporkan perkembangan Ayyas di sekolah. Pernah suatu hari, Ayyas mimisan di sekolah. Guru dengan sigap langsung menyampaikan ke saya saat saya menjemput Ayyas. Walaupun Ayyas belum bisa membaca saat TK, tidak ada paksaan yang Ayyas terima. Ini sesuai dengan yang saya dan suami inginkan. TK adalah sarana untuk bermain dan bergembira.


Terima Kasih , Guru



Tulisan ini adalah rangkaian ucapan terima kasih saya di hari Guru tanggal 25 November. Pertama, saya ingin berterima kasih guru Bahasa Indonesia saya saat duduk di kelas 3 SMA. Beliaulah yang menyadari keinginan saya untuk menulis. Kepada saya, dia berkata,”Alida, jadilah jurnalis. Kamu senang sekali menulis”. Dan atas dukunganya pula saya kemudian memilih menjadi jurnalis. Walaupun, kegemaran saya menulis sudah muncul sejak kelas 2 sekolah dasar.



Saya ingin berterima kasih kepada Bapak Zaenal Arifin Emka, dosen saya di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan . Dosen saya ini yang mengajarkan menjadi jurnalis yang lurus dan berdedikasi. Saya ingat usai shalat dzuhur di mushala kampus saya bertanya kepadanya tentang sulitnya menjadi jurnalis yang ‘lurus’ serta tidak menerima amplop. Pak Zaenal berucap,”Mungkin tak banyak. Tapi kita harus bisa”. Mungkin Pak Zaenal lupa dengan kalimat ini. Tapi saya masih mengingatnya, hingga kini.   



Saya ingin berterima kasih kepada almarhum Pak Zainuddin, mentor saya di bidang fotografi. Awalnya, pak Zen, begitu saya memanggilnya, adalah atasan saya. Tapi kemudian saya belajar banyak hal tentang fotografi dari Pak Zen. Mulai dari belajar foto, menyiapkan pameran foto, menyiapkan rapat dewan juri dan sebagainnya. Pak Zen tergolong keras untuk hasil foto. Caranya menyeleksi foto saya adalah dengan membuang foto yang jelek. Jika ada 10 foto yang disodorkan, 9 foto pasti dibuang. Bahkan tidak ada sama sekali yang menurutnya bagus dan saya harus berulangkali memotret. “Jangan mengandalkan photoshop untuk edit foto,” kata Pak Zen.



Saya ingin berterima kasih kepada Ibu Liestianingsih. Bu Lies, saya memanggilnya, adalah dosen pembimbing skrispsi saya. Dari bu Lies, saya belajar banyak tentang feminisme yang kemudian dimasukkan di dalam skrispsi saya di tahun 2005. Bahan-bahan skripsi saya peroleh di kampus Universitas Airlangga berdasarkan informasi dari Bu Lies. Diskusi demi diskusi dengan bu Lies, menambah wawasan saya.  



Saya ingin berterima kasih kepada Prof Muhammad Mustofa, pembimbing tesis saya. Saya masih ingat dengan segala keterbatasan saya atas ilmu kriminologi, Prof Mus, nama panggilannya, membimbing saya. Setiap kali pertemuan dalam bimbingan demi bimbingan, pertanyaan demi pertanyaan saya ajukan dan dijawab Prof Mus. Jawaban yang mudah dicerna bagi otak saya. Saya sempat mengeluh dan ingin menyerah, apalagi sidang terakhir saya masih harus koreksi tesis dan diberikan waktu empat hari untuk koreksi. Jika tidak lolos, saya tidak bisa di wisuda tahun itu juga. Tapi saat Prof Mus akhirnya menyetujui tesis saya, saya mencium tangannya. Senang sekali akhirnya bisa lulus tesis.   



Tulisan ini memang sederhana. Tapi bagi saya, ini bukti ucapan terima kasih saya kepada para guru. Di luar nama-nama itu semua, saya sangat berterima kasih atas semua guru yang telah membantu saya, membimbing saya penuh kesabaran. Semua ilmu yang diberikan sangat berharga hingga kini. Tanpa bantuan para guru, saya tidak akan seperti ini. Selamat hari Guru, 25 November. Sekali lagi, terima kasih  


Senin, November 23, 2015

Everest, Perjuangan Pendaki Bertahan Hidup





Saya termasuk golongan penikmat film berdasarkan kisah nyata. Film berdasarkan kisah nyata yang terakhir saya nonton adalah film berjudul ‘Everest  yang bercerita tentang kisah nyata tragedi pendakian tahun 1996. Kisah ini menceritakan ekspedisi yang dipimpin Robert Edwin Hall Hall (Jason Clarke) melalui Adventure.Mereka menemani para pendaki yang memiliki tujuan berbeda untuk mendaki gunung Everest pada Februari 1996. Para pendaki itu adalah Michael Groom (Thomas W. Wright), Harold (Martin Henderson), Dough Hansen (John Hawkes), Yasuko Namba (Naoko Mori), Beck Weathers (Josh Brolin) serta jurnalis Jon Krakuer (Michael Kelly). Kala Yasuko Namba (Naoko Mori) ditanya alasan mendaki Everest ia menjawab singkat. “Saya sudah mendaki enam gunung, saya ingin ke tujuh,” katanya. Rob memiliki satu janji kepada istrinya Jan Hall (Keira Knightley), pulang untuk melihat anaknya lahir.


Jumat, November 20, 2015

Saya, Emak dan Pendidikan

Menimba ilmu hingga perguruan tinggi menjadi keinginan saya. Dan tentu juga keinginan kedua orangtua. Papa saya hanya mampu menjadi sarjana muda. Sedangkan mama hanyalah lulusan SMA. Mama saya sempat kuliah, namun tak sampai selesai. Saat kuliah jurusan Jurnalistisk di Perguruan Tinggi Swasta, terbersit keinginan saya untuk melanjutkan kuliah hingga pascasarjana. Namun, tawaran bekerja freelance, membuat saya kemudian memilih bekerja sambil kuliah. Dari sinilah saya merasakan sulitnya mencari uang. Kesulitan itu membuat saya memilih satu tekad. “Saya akan kuliah lagi hanya dengan uang pribadi saya atau beasiswa,” ucap saya tahun 2001. 

Keinginan kuliah pascasarjana, masih saya pendam dalam kurun waktu yang lama. Tahun 2005, saat lulus sebagai sarjana jurnalistik, saya bertemu buku yang menginspirasi dan mendukung keinginan saya. Judul buku ini sederhana. Emak. Buku ini ditulis dengan cara bertutur, dengan bahasa yang ringan dan mengalir.  Buku yang ditulis oleh Daoed Joesoef membahas bagaimana emaknya mengajarkan banyak hal. Terutama tentang pentingnya pendidikan. Dalam buku itu, tercantum kalimat emak agar menuntut ilmu setinggi mungkin. “Allah telah berjanji akan mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Dengan janji ini sebenarnya Dia telah mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Bila kita belajar berarti kita telah mengulurkan pula tangan kita kepada Tuhan agar dibimbing. Bimbingan ini tentu ada karena belajar, menuntut ilmu, adalah menjalankan ibadah. Maka pergilah mencari ilmu ke tempat dimanapun dimana ilmu itu bisa diperoleh!”. Kalimat yang di ucapkan emak ini ini didasarkan dari surat Al ‘Alaq dan sabda Rasulullah yang menandakan bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi muslimat dan untuk itu kalau perlu pergi ke Negeri Cina. Ah, saya kembali teringat keinginan saya untuk kembali kuliah. 

Sabtu, November 14, 2015

Enaknya Choco Chips Banana Bread ...



Jumat malam kemarin, hujan tiada henti. Nah saat cuaca dingin, entah kenapa ingin sekali selalu ngemil. Tapi, ngemil apa yah? Pagi hari saya sudah memasak mpek-mpek dos kesukaan Ayyas. Hmm ... masak apa lagi ya? 

Kayaknya asyik juga kalau makan kue sambil minum teh. Tapi malas juga kalau harus masak kue yang ribet. Bongkar-bongkar resep, akhirnya saya nemu resep mudah tanpa perlu mixer. Cukup mengaduk dengan spatula. Nama resepnya “Choco chips Banana Bread” ala Yoana Anandita. Resep ini saya dapat di grup Natural Cooking Club (NCC). Kebetulan bahan-bahannya hampir semua ada semua di rumah. Apalagi bahan utamanya, yakni pisang, baru saja saya beli hari Kamis. 


Resep Choco Chips Banana Bread  :



Bahan :

125 ml minyak

225 gram gula pasir

2 butir telur ayam

5 buah pisang ambon matang kerok halus

Tepung serba guna

1 sdt baking soda (saya skip)

½ sdt baking powder

3 sdm susu tawar (saya skip karena lupa. Hihii)

½ sdt vanila ekstrak

Chococips sesukanya



Cara membuat :

Panaskan oven 180 derajat. Jangan lupa untuk oleskan loyang dengan mentega dan tepung terigu. Tujuannya agar saat matang, adonan tidak akan lengket di loyang. Ambil wadah bersih, lalu masukkan gula dan minyak. Aduk rata dan kemudian masukkan telur. Setelah rata, masukkan pisang, vanili dan susu. Kemudian, masukkan tepung terigu, baking powder. Aduk rata hingga tercampur. Terakhir, masukkan choco chips sesukanya. Setelah tercampur rata, masukkan ke loyang berukuran 30x10 cm.  Masak adonan hingga 45 menit. Oh ya, tes tusuk wajib dilakukan untuk mengetahui adonan sudah matang atau tidak. Jika tak lengket, tandanya adonan sudah matang.




Tips :

1.        Pakai pisang ambon yang matang ya. Biar aroma lebih wangi dan rasanya wangi alami

2.        Saat memasukkan loyang ke oven, gunakan api bawah hingga 30 menit. Setelah kue agak menggembang, baru gunakan api atas. Bagi pengguna otang seperti saya, loyang digunakan di bawah agar mendapatkan api bawah. Setelah itu loyang digunakan di atas untuk mendapatkan api atas. Saya pernah terlalu sebentar menggunakan api bawah, langsung menggunakan api atas. Alhasil, kue bantet. Jadi, pastikan dengan baik ya adonan sudah matang atau tidak



Nah, choco chips banana bread ini, nikmat sekali dikonsumsi selagi hangat. Apalagi dikonsumsi dengan segelas teh hijau dan ditemani keluarga tercinta. Selamat menikmati



  

Kamis, November 12, 2015

FesmedAJI, Kegiatan Cerdas Memilih Media


 
Ingin menjadi presenter? Belajar tentang dokumentasi kreatif? Atau mengikuti kelas kreatif?. Datanglah di Festival Media (FesmedAJI) yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 14-15 November di Kampus Unika Atmajaya jalan Jenderal Sudirman No 51. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh AJI. Tahun ini, tema yang dipilih menurut saya sangat menarik yakni “Cerdas Memilih Media”. AJI dalam festival ini berharap masyarakat semakin cerdas memilih sumber informasi yang sesuai fakta. Banyaknya informasi yang diterima terkadang menimbulkan pertanyaan, “ini fakta atau rekayasa?”.


Beragam kegiatan mulai dari talkshow, pameran, hingga beraneka perlombaan ada di acara ini. Narasumber yang dihadirkan dalam FesmedAJI adalah mereka yang berpengalaman di bidangnya. Misalnya pada talkshow “Menjadi Presenter”, ada dua narasumber yakni Najwa Shihab dan Aiman Wicaksono yang dihadirkan. Kedua narasumber ini katanya akan memberikan tips-tips menjadi presenter. Hmm menarik kan? Jika ingin belajar menjadi presenter datanglah pada Minggu, 15 November pukul 14.00-16.00 WIB di Ruang Yustinus 15 Kampus Atmajaya. Di hari kedua, tentu tak hanya itu saja acara yang menarik yang bisa diikuti. Ada juga kelas fotografi menggunakan gadget yang menghadirkan Arbain Rambey. 


Di workshop ini, peserta akan mempelajari bagaimana memanfaatkan smartphone tak hanya sekedar komunikasi saja. Hmm sepertinya menarik juga diikuti…

Kegiatan di Sabtu, 14 November juga menarik diikuti. Salah satunya kelas “Pelatihan Menulis Blog”. Kalau masih saja kesulitan menulis di blog, kegiatan ini bisa menjadi pilihan. 

Mendaftarlah untuk mengikuti kelas yang akan diselenggarakan pukul 10.00-12.00 WIB. Tak hanya workshop saja, FesMedAJI ini juga ada beraneka perlombaan menarik. Bagi yang memiliki adik atau keponakan atau anak yang tertarik menjadi jurnalis, bisa ikut lomba jurnalis cilik. Hadiahnya keren juga? Sepeda! Asyikk …. Lomba penulisan online pers mahasiswa juga ada di FesMedAJI. Lomba ini berhadiah uang senilai Rp 5 juta.   

Tertarik?
Silakan langsung buka website http://festival-media.aji.or.id/. Oh ya, jangan lupa daftar untuk mengikuti kegiatan. Maklum, dari kegiatan di tahun-tahun sebelumnya, selalu saja ramai. Daaan, acara ini gratis dan benar-benar gratis. Tanpa dipungut biaya sama sekali.

Kesaksian Korban Kekerasan Seksual 1965



Mendengarkan video ini dari youtube 




Kesaksian seorang perempuan berusia 70 tahun di Pengadilan Rakyat Internasional mengenai peristiwa 1965 di Den Haag, Belanda. Dia dipaksa mengaku sebagai simpatisan PKI atau anggota Gerwani. 

Ibu itu berkata :
Saya merenungi, mengapa saya dapat perlakukan seperti ini. Setelah tiga hari, saya di keluarkan di bawa ke kantor. Kembali pertanyaan yang sama, kamu kenal lelaki ini tidak. Saya tidak punya jawaban yang lain. Saya tidak kenal pak, tidak kenal. Lalu saya disuruh pilih, kamu mengaku terkait gerilya politik atau saya ditelanjangi. Akhirnya kami ditelanjangi, disaksikan mereka. Lalu laki-laki itu juga ditanya, seperti saat kami bertemu. Akhirnya kami disuruh memilih, kamu pilih, kamu pilih mengaku kenal dan melakukan gerakan gerilya politik atau kamu saya telanjangi. tetapi toh akhirnya kami ditelanjangi. Dalam keadaan saling telanjang disaksikan mereka yang ada di situ. Kami ditanya, tanyakan lagi, kalian memilih, saya posisikan duduk berpangkuan atau mengaku kalau kalian melakukan gerilya politik. Saya hanya bisa menangis, karena jawaban saya tidak pernah mereka dengarkan. (jeda)   

Penderitaan yang dia alami membekas hingga kini....