Selasa, Juni 03, 2014

Saya, Pengguna Setia Commuterline

Bagi saya, menggunakan commuterline memperpendek jarak, menghemat pengeluaran. Maka, hampir setiap hari saya menggunakan commuterline dari stasiun Universitas Indonesia menuju Tanah Abang lalu disambung ke Palmerah. Ya, hampir setiap hari. Dan menggunakan CRL (commuterline) akan penuh dengan para penumpang.

Saat CRL datang, saya harus menahan napas ketika mengetahui di dalam CRL teryata penuh sesak. Menunggu CRL lain datang, bisa 10-15 menit lagi. Itu kalau anda beruntung. Tapi, saya terkadang memilih untuk menggunakan CRL yang tiba terlebih dahulu. Penumpang harus memaksakan diri untuk masuk ke dalam CRL. Mendengarkan teriakan karena ada yang merasa sesak? Ah, itu sudah biasa. Ketika posisi berada di depan pintu CRL, saya harus berhati-hati pintu tidak akan tertutup. JIka pintu CRL tidak tertutup, maka CRL tidak akan tertutup. Maka, terkadang ada juga penumpang yang berpegangan di atas pintu, mendorong badannya ke belakang hingga pintu tertutup.

Pintu tertutup, CRL pun melaju. Berada di dalam CRL, panasnya terasa. Pendingin udara tak lagi terasa. Keringat pun bercucuran. Tak mungkin menggunakan kertas untuk mengkipasi tubuh. Mengapa? Bergerak saja susah! Maka, yang bisa dilakukan adalah diam, pasrah. Padahal di dalam CRL seharusnya terasa dingin. Apalagi ditambah kipas angin. Tapi percayalah, dalam keadaan penuh sesak, angin pun hampir tak terasa. Tak heran, beberapa kemudian ada yang memilih membuka jendela CRL agar angin masuk ke dalam CRL. Cara ini tergolong jitu untuk menambah kesejukan. Tapi itu akan berguna jika berada di depan jendela. Jika tidak, saya ucapkan selamat berkeringat.

Masalah kembali muncul saat hendak keluar dari CRL. Bagaimana kelua pada saat kereta panas dan penuh sesak? Pertama, minta ijin terlebih dahulu kalau akan keluar. Biasanya, biasanya loh masih saja ada yang dengan rela membiarkan badanya penuh himpitan agar penumpang lain bisa keluar. Tentu saja sambil menahan sakit karena terhimpit.

Saya selalu sedih jika ada ibu hamil, orang tua atau anak kecil yang akan masuk ke dalam CRL yang penuh sesak. Saya tahu, jika mereka boleh memilih, mereka pasti akan menggunakan taksi, mobil pribadi atau sarana transportasi lain yang lebih nyaman dibandingkan CRL yang penuh sesak. Tapi itu jika mereka ada pilihan. Bagaimana kalau mereka tak ada dana untuk menggunakan transportasi umum lainnya? Sayangnya, tak semua penumpang CRL menyadari kalau ada keterbatasan itu. Alhasil, masih ada ibu hamil yang terpaksa berdiri dan baru bisa duduk jika ada yang berteriak, ”ada ibu hamil kasih tempat duduk”. Begitulah. Tapi saya pernah berulangkali minta agar ibu hamil dikasih tempat duduk, tapi ini tidak digubris. Saya mempertanyakan kepekaannya. Seolah sudah mati rasa. Tapi, itulah yang terjadi.


Saya salut dengan mereka, masih tetap saja menggunakan CRL. Tetap saja bekerja, menempuh perjalanan dengan kondisi yang sangat tidak nyaman. Tapi saya tidak tahu, apakah mereka memiliki pilihan atau tidak. Menurut anda? 

Minggu, Juni 01, 2014

Outbound Bersama Ayyas? Menyenangkan!

Belum pernah saya outbound bersama Ayyas. Baru sekali, yakni pada Sabtu 31 Mei 2014. Ceritanya, sekolah Ayyas di TK Al Biruni melaksanakan kegiatan outbound orangtua dan anak di kawasan Citra Alam, Jawa Barat. Ayyas tampak antusias saat mengetahui akan berlibur bersama teman-temannya. “Ayo ummi kita ke Puncak. Aku mau nginap di Puncak,” celoteh Ayyas. Kepadanya, saya katakan bahwa kita tidak ke Puncak, tapi ke Bogor. Tapi Ayyas bersikukuh kalau liburanya diadakan di Puncak. Dan teryata dia benar!

Pukul 04.00 WIB, Ayyas bangun tidur. Setengah jam kemudian dia minta mandi. Mandi di pagi hari tentu dingin sekali. Untunglah, suami memilih untuk memasakkan air panas untuk dia mandi. Usai mandi, Ayyas saya suapin sarapan. Dia lahap sekali. Mungkin bersemangat akan berlibur. Setengah jam kemudian, kami bergegas menuju ke kantor LAPAN, tempat berkumpul sebelum ke lokasi. Tiba di sana, sudah banyak orangtua beserta anak yang menunggu. Beruntung, tak lama kemudian bus pun segera bergerak menuju ke Puncak.

Teryata di perjalanan, macet pun kami alami. Alhasil, butuh waktu hingga 3,5 jam untuk tiba di kawasan Citra Alam, Puncak, Jawa Barat. Lokasinya tidak begitu jauh drai Taman Wisata Matahari. Hanya saja, jalan menuju ke sana sempit. Tak ada penanda yang mencolok terkait lokasi itu. Dari jalan raya, hanya cukup satu mobil saja. Untuk mobil saja kesulitan, apalagi bus. Tapi mau tak mau, bus pun mencoba masuk. Sepertinya walaupun jalan demikian sempit tapi sudah banyak bus yang menuju ke sana. Nah, ada inisden kecil saay tanjakan menuju lokasi. Tiba-tiba, bus yang kami tumpangi mogok. Saat bus mencoba berjalan di tanjakan, terpaksa harus rem mendadak. Spontan, satu bus pun menjerit. Setelah tiga kali berada di posisi seperti itu, kami pun memutuskan untuk turun dari bus dan berjalan. Badan bergetar saking ketakutan. Anak-anak pun sebagian pun merasakan ketakutan yang kami alami. “Keluar cepat, tak usah membawa tas,” begitu instruksi yang kami dengar. Walaupun sudah turun, badan kami masih gemetar ketakutan. Hampir saja kami tak mau naik ke bus lagi. “Takut, trauma,” begitu coleteh sebagian penumpang. Tapi dengan berharap cemas, kami kembali naik ke bus. Berharap semua baik-baik saja.


Syukurlah, perjalanan bus menjadi lancar. Bus berhenti di sebuah lapangan besar yang mampu menampung hingga lebih dari 10 bus. Walaupun dari luar terlihat sempit, tapi di dalam teryata luas sekali. Dari tempat pemberhentian itu, kami masih harus mengendarai mobil untuk membawa kami ke lokasi outbound. Tapi jujur, kami masih saja trauma insiden sebelumnya.