Top Social

TRAVEL AND LIFESTYLE BLOGGER

Ayyas Naik Panggung!

Minggu, Juni 08, 2014
Kaget, senang, bangga. Mungkin itulah perasaan yang saya dan suami alami. Betapa tidak, saat anak lain mungkin merasa takut naik ke panggung, Ayyas malah inisiatif naik ke panggung. Tanpa kami minta. Ini terlihat pada Minggu, 7 Juni 2014 di Pejaten Village Mall. Sore hari ada aksi dance Larva, tokoh kartun yang sedang populer. Pembawa acara kemudian menanyakan siapa yang ingin naik ke panggung untuk mendapatkan hadiah. Ayyas kemudian bertanya, “aku pengen naik ke atas (panggung),” katanya. Suami pun mengiyakan. Kemudian, dia pun maju dan naik ke panggung. Oh, ingin rasanya saya berteriak kegirangan karena percaya dirinya tinggi. Di panggung, ia berkumpul dengan 10 anak lain yang merebutkan hadiah.

Kuis yang dilontarkan sebetulnya sederhana. Saat pembawa acara menanyakan dimana kaki, maka anak pun harus menunjukkan kakinya. Ayyas berhasil hingga berkurang menjadi enam orang. Tapi kemudian pertanyaan “dimana mata kaki?, Ayyas menunjukkan mata kemudian kaki. Alhasil, Ayyas pun harus turun panggung. Saya memeluknya dan berkata bahwa dia hebat. Saya pikir mungkin dia hanya akan mau menonton saja. Tapi kemudian, pembawa acara menanyakan siapa saja yang mau ikut goyang ala Larva, Ayyas pun mengangkat tangan dan segera maju. Ah, saya tertawa melihat tingkahnya. Suami saya pun demikian. Tertawa bahagia tentunya.  Kali ini kuisnya, anak-anak diminta untuk joget heboh ala Larva. Awalnya diberikan contoh dan kemudian anak-anak mengikuti. Tapi kemudian, anak-anak diminta untuk joget. Nah, Ayyas asyik berjoget tapi tak heboh. Dia menggerakkan tangan dan badan. Saya tersenyum melihatnya. Dan, lagi-lagi Ayyas harus menerima kenyataan bahwa dia harus turun tanpa membawa hadiah. Saya peluk dia dan dia pun berkata,” Aku pengen dapat hadiah,”. Saya katakan bahwa lain kali akan ikut lagi. Setelah kuis dilakukan, kini sesi foto bersama Larva. Ayyas awalnya mengaku takut. “Larva itu nggak seram. Malah lucu,” kata saya. Dia pun kemudian memilih untuk maju dan berfoto bersama Larva. Bahkan dua kali!

Saat pembawa acara mengatakan akan ada rehat 30 menit, Ayyas masih ingin tetap mengikuti. Tapi kala itu sudah pukul 19.00 WIB. Terlalu malam bagi kami. Untunglah, Ayyas mengikuti saran kami. Bagi saya, pengalaman hari Minggu kemarin adalah sesuatu yang membahagiakan. Saya dan suami ingin Ayyas menjadi percaya diri. Tidak kenal takut tapi juga sopan. Ketika anak muncul keinginan untuk naik dan berhadapan dengan banyak orang yang tidak dia kenal, itu menunjukkan keberaniannya.

Sebetulnya kami pernah sampaikan agar Ayyas tak malu  atau tak mau menjawab saat ditanya oleh saudara atau teman. Teryata, saran kami di dengar. Setiap kali ditanya, ia dengan lugas menjawab tanpa rasa takut. Tapi tentu pertanyaan itu dijawab dengan baik. Sebagai orangtua, kami mungkin tidak boleh menjadi otoriter dan memaksa kehendak kepada anak. Tapi ada hal-hal mendasar yang perlu diajarkan bagi anak sejak dini. Misalnya agar anak tak takut, percaya diri serta menghormati sesama. Jika ini dilakukan anak, betapa bahagianya orangtua.


Jakarta, 8 Juni 2014 

Saya, Pengguna Setia Commuterline

Selasa, Juni 03, 2014
Bagi saya, menggunakan commuterline memperpendek jarak, menghemat pengeluaran. Maka, hampir setiap hari saya menggunakan commuterline dari stasiun Universitas Indonesia menuju Tanah Abang lalu disambung ke Palmerah. Ya, hampir setiap hari. Dan menggunakan CRL (commuterline) akan penuh dengan para penumpang.

Saat CRL datang, saya harus menahan napas ketika mengetahui di dalam CRL teryata penuh sesak. Menunggu CRL lain datang, bisa 10-15 menit lagi. Itu kalau anda beruntung. Tapi, saya terkadang memilih untuk menggunakan CRL yang tiba terlebih dahulu. Penumpang harus memaksakan diri untuk masuk ke dalam CRL. Mendengarkan teriakan karena ada yang merasa sesak? Ah, itu sudah biasa. Ketika posisi berada di depan pintu CRL, saya harus berhati-hati pintu tidak akan tertutup. JIka pintu CRL tidak tertutup, maka CRL tidak akan tertutup. Maka, terkadang ada juga penumpang yang berpegangan di atas pintu, mendorong badannya ke belakang hingga pintu tertutup.

Pintu tertutup, CRL pun melaju. Berada di dalam CRL, panasnya terasa. Pendingin udara tak lagi terasa. Keringat pun bercucuran. Tak mungkin menggunakan kertas untuk mengkipasi tubuh. Mengapa? Bergerak saja susah! Maka, yang bisa dilakukan adalah diam, pasrah. Padahal di dalam CRL seharusnya terasa dingin. Apalagi ditambah kipas angin. Tapi percayalah, dalam keadaan penuh sesak, angin pun hampir tak terasa. Tak heran, beberapa kemudian ada yang memilih membuka jendela CRL agar angin masuk ke dalam CRL. Cara ini tergolong jitu untuk menambah kesejukan. Tapi itu akan berguna jika berada di depan jendela. Jika tidak, saya ucapkan selamat berkeringat.

Masalah kembali muncul saat hendak keluar dari CRL. Bagaimana kelua pada saat kereta panas dan penuh sesak? Pertama, minta ijin terlebih dahulu kalau akan keluar. Biasanya, biasanya loh masih saja ada yang dengan rela membiarkan badanya penuh himpitan agar penumpang lain bisa keluar. Tentu saja sambil menahan sakit karena terhimpit.

Saya selalu sedih jika ada ibu hamil, orang tua atau anak kecil yang akan masuk ke dalam CRL yang penuh sesak. Saya tahu, jika mereka boleh memilih, mereka pasti akan menggunakan taksi, mobil pribadi atau sarana transportasi lain yang lebih nyaman dibandingkan CRL yang penuh sesak. Tapi itu jika mereka ada pilihan. Bagaimana kalau mereka tak ada dana untuk menggunakan transportasi umum lainnya? Sayangnya, tak semua penumpang CRL menyadari kalau ada keterbatasan itu. Alhasil, masih ada ibu hamil yang terpaksa berdiri dan baru bisa duduk jika ada yang berteriak, ”ada ibu hamil kasih tempat duduk”. Begitulah. Tapi saya pernah berulangkali minta agar ibu hamil dikasih tempat duduk, tapi ini tidak digubris. Saya mempertanyakan kepekaannya. Seolah sudah mati rasa. Tapi, itulah yang terjadi.


Saya salut dengan mereka, masih tetap saja menggunakan CRL. Tetap saja bekerja, menempuh perjalanan dengan kondisi yang sangat tidak nyaman. Tapi saya tidak tahu, apakah mereka memiliki pilihan atau tidak. Menurut anda? 

Outbound Bersama Ayyas? Menyenangkan!

Minggu, Juni 01, 2014
Belum pernah saya outbound bersama Ayyas. Baru sekali, yakni pada Sabtu 31 Mei 2014. Ceritanya, sekolah Ayyas di TK Al Biruni melaksanakan kegiatan outbound orangtua dan anak di kawasan Citra Alam, Jawa Barat. Ayyas tampak antusias saat mengetahui akan berlibur bersama teman-temannya. “Ayo ummi kita ke Puncak. Aku mau nginap di Puncak,” celoteh Ayyas. Kepadanya, saya katakan bahwa kita tidak ke Puncak, tapi ke Bogor. Tapi Ayyas bersikukuh kalau liburanya diadakan di Puncak. Dan teryata dia benar!

Pukul 04.00 WIB, Ayyas bangun tidur. Setengah jam kemudian dia minta mandi. Mandi di pagi hari tentu dingin sekali. Untunglah, suami memilih untuk memasakkan air panas untuk dia mandi. Usai mandi, Ayyas saya suapin sarapan. Dia lahap sekali. Mungkin bersemangat akan berlibur. Setengah jam kemudian, kami bergegas menuju ke kantor LAPAN, tempat berkumpul sebelum ke lokasi. Tiba di sana, sudah banyak orangtua beserta anak yang menunggu. Beruntung, tak lama kemudian bus pun segera bergerak menuju ke Puncak.

Teryata di perjalanan, macet pun kami alami. Alhasil, butuh waktu hingga 3,5 jam untuk tiba di kawasan Citra Alam, Puncak, Jawa Barat. Lokasinya tidak begitu jauh drai Taman Wisata Matahari. Hanya saja, jalan menuju ke sana sempit. Tak ada penanda yang mencolok terkait lokasi itu. Dari jalan raya, hanya cukup satu mobil saja. Untuk mobil saja kesulitan, apalagi bus. Tapi mau tak mau, bus pun mencoba masuk. Sepertinya walaupun jalan demikian sempit tapi sudah banyak bus yang menuju ke sana. Nah, ada inisden kecil saay tanjakan menuju lokasi. Tiba-tiba, bus yang kami tumpangi mogok. Saat bus mencoba berjalan di tanjakan, terpaksa harus rem mendadak. Spontan, satu bus pun menjerit. Setelah tiga kali berada di posisi seperti itu, kami pun memutuskan untuk turun dari bus dan berjalan. Badan bergetar saking ketakutan. Anak-anak pun sebagian pun merasakan ketakutan yang kami alami. “Keluar cepat, tak usah membawa tas,” begitu instruksi yang kami dengar. Walaupun sudah turun, badan kami masih gemetar ketakutan. Hampir saja kami tak mau naik ke bus lagi. “Takut, trauma,” begitu coleteh sebagian penumpang. Tapi dengan berharap cemas, kami kembali naik ke bus. Berharap semua baik-baik saja.


Syukurlah, perjalanan bus menjadi lancar. Bus berhenti di sebuah lapangan besar yang mampu menampung hingga lebih dari 10 bus. Walaupun dari luar terlihat sempit, tapi di dalam teryata luas sekali. Dari tempat pemberhentian itu, kami masih harus mengendarai mobil untuk membawa kami ke lokasi outbound. Tapi jujur, kami masih saja trauma insiden sebelumnya.  

Auto Post Signature

Auto Post  Signature