Kamis, Mei 29, 2014

Bisnis Sewa Tas



Mau tampil mentereng, tentenglah tas merek beken. Tak perlu beli jika kantong cekak. Dengan sistem sewa, duit hemat, gengsi pun dapat.

Dior. Toscano. Versace. Prada. Merek-merek beken itu tak asing lagi di mata wanita kalangan atas. Ke mana pun kaki melangkah, rasanya tak afdol bila tidak menenteng tas karya perancang top dunia itu. Meski harus dibeli dengan harga selangit, tak masalah demi gengsi.

Tetapi, jika gonta-ganti tas merek beken, kantong pun bisa jebol. Apalagi, biasanya tas hanya dipakai sekali. Setelah itu jadi pajangan. Bagaimana menyiasati agar bisa menyandang tas bergengsi tanpa menguras kocek? Dewi Hendrawan punya cara jitu.

Wanita 30 tahun itu tak perlu repot-repot membeli tas berbagai merek. Jika perlu, ia cukup datang ke persewaan tas Smart Diva. Satu merek bisa sekali pakai, berikutnya ganti merek lain. Siapa yang tahu bahwa tasnya barang sewaan.

Sejak mengetahui ada tempat persewaan, ia memilih menyewa ketimbang membeli setiap kali butuh tas. Manajer artis itu kali pertama menyewa tas merek Dior Rp 500.000 sehari. “Saya butuh untuk menghadiri ulang tahun teman. Semua tamunya orang terkenal,” ujar Dewi.
Di pesta bertabur selebriti itu, ia harus tampil berkelas. Toh, tidak ada satu pun pengunjung pesta mengetahui bahwa ia menenteng tas sewaan. “Saya nggak bilang siapa-siapa,” ucap Dewi setengah berbisik. Lagi pula, tas mahal yang ditenteng Dewi tidak distempel “sewa”.

Kini perempuan kelahiran Jakarta, 1 Agustus 1976, itu mengaku sering gonta-ganti tas merek terkenal. Untuk itu, ia harus bolak-balik ke Smart Diva. “Lebih baik sewa tapi asli daripada beli tapi palsu,” ungkap Dewi.
Sebelumnya, Dewi pernah memiliki tas Toscano seharga Rp 2 juta. Tetapi ia tidak sempat merawatnya. Akibatnya, tas itu tak dapat dipakai lagi. “Susah banget menjaga kualitas tas,” Dewi mengeluh. Tak mengherankan, ia sekarang lebih suka menyewa ketimbang membeli dan merawat tas berkualitas tinggi.
Pemilik Smart Diva, Amanda Sari, menyatakan bahwa sewa-menyewa tas merek terkenal sudah jamak bagi sejumlah wanita kelas menengah atas Jakarta. Budaya ”irit” itulah yang menginspirasi Amanda untuk membuka gerai persewaan tas. Untuk menjalankan bisnisnya, ia merangkul Jessica Schwarze, sahabatnya.
Amanda dan Jessica merintis bisnis persewaan tas beken, pertengahan tahun ini. Mereka hanya menyediakan merek dunia yang sudah ngetop di kalangan jetset, macam Versace, Prada, Chole, LV, Tod’s, YSL, Balenciaga, dan Fendi.

Awalnya Amanda dan Jessica adalah penggemar tas. Lantaran tas berharga jutaan rupiah itu hanya sekali dua kali dipakai, puluhan koleksi tasnya hanya menjadi pajangan. Setelah berburu informasi di internet, terbersitlah ide untuk membuat gerai persewaan tas. Situs-situs luar negeri seperti Bag Borrow or Steal dan From Bag To dijadikan rujukan.

Semula, banyak yang mencibir usaha yang dirintis dua wanita itu. “Gila aja, tas kok disewakan,” ucap Jessica, menirukan komentar beberapa orang. Tetapi niat mereka sudah mantap. Tak peduli anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. “Ini yang pertama kali di Indonesia,” ujar Jessica mantap.
Dengan modal Rp 100 juta, mereka mulai berburu tas-tas merek ternama. Tak perlu ke luar negeri, cukup mendatangi Plaza Indonesia dan Plaza Senayan. Setelah terkumpul 20 jenis tas, layanan persewaan tas pun dipublikasikan. Para calon pemesan bisa mengakses situs http://www.smart-diva.com.
Setelah menemukan tas yang diinginkan, cukup dengan menelepon, lalu pesanan segera diantar. Basecamp tempat persewaan adalah di rumah Amanda di Perumahan Pondok Indah, Jakarta. Kala itu, setiap akhir pekan, lima hingga 10 orang memesan tas.

Lantaran pelanggan makin berjibun, sejak 18 September lalu, Smart Diva membuka gerai di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. “Supaya lebih bergengsi,” ucap Jessica. Di gerai itu tersedia sekitar 50 item tas yang bisa disewa. Harga sewanya bervariasi, tergantung klasifikasi yang diberikan.
“Kami membaginya menjadi tiga tingkatan,” kata Jessica. Tingkat pertama adalah couture, yakni tas-tas yang harganya di atas Rp 10 juta. Selanjutnya kelas diva, dengan harga Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Terakhir kelas princess, yang ditujukan bagi tas seharga Rp 5 jutaan.

Jenis tas couture nilai sewanya sekitar Rp 1,8 juta per bulan. Diva dibanderol sekitar Rp 900.000 per bulan, sedangkan princess memiliki tarif sekitar Rp 550.000 per bulan. Ada keistimewaan lain apabila menyewa tas selama sebulan. “Bisa ditukar dengan jenis lain selama tiga kali dalam sebulan,” ungkap Jessica.
Selain itu, harga sewa juga tergantung mereknya. Misalnya merek Versace Metallic, yang harganya Rp 20 juta, dapat disewa dengan harga sekitar Rp 1,750 juta per dua minggu. Maklum, tas merek itu pernah digunakan Madonna. Ada juga merek Fendi Lace Embroidery Bag seharga Rp 30 juta, kesayangan artis Jessica Simpson, yang bisa disewa seharga Rp 2.500.000 per dua minggu.

Paling eksklusif, tas merek Hermess, yang harga jualnya Rp 120 juta, dapat disewa dengan harga Rp 6 juta per bulan. Jessica pernah menyewakan tas merek Lois Vuitton Bucket Bag, yang harganya Rp 30 juta, Rp 3 juta per dua hari. “Setelah itu, tas tersebut kami jual seharga Rp 28 juta,” tutur wanita cantik kelahiran Jakarta, 13 April 1973, itu.

Mereka yang tak sempat mendatangi gerai bisa mengunjungi gerai maya di situs Smart Diva. Di situs ini terdapat formulir khusus untuk penyewaan tas. “Bisa juga formulir itu difaks,” kata Jessica. Persyaratan untuk menyewa tas ini tergolong mudah. Cukup mengisi formulir pendaftaran serta menyertakan fotokopi KTP/paspor dan berdomisili di Jakarta.

Kini Smart Diva telah memiliki 120 pelanggan, dengan jumlah item tas sebanyak 27 buah. Setiap bulan dilakukan pembaruan jenis tas. Mayoritas penyewa berasal dari golongan menengah ke atas. Mulai mahasiswa, eksekutif muda, hingga ibu-ibu rumah tangga. “Pokoknya, segala lapisan masyarakat,” ujar Jessica.
Rach Alida Bahaweres

Maut Mengintai Wartawan



Irak merupakan ranjau pembunuhan terbesar: 60 nyawa wartawan melayang. Tapi Filipina merupakan negeri, di mana nyawa wartawan jadi incaran para koruptor.

ATTACK ON THE PRESS IN 2005
Editor: Bill Sweeney
Penerbit: Committee to Protect Journalist, New York, 2006, 311 halaman

TAHUN 2005 merupakan saat paling menyedihkan bagi para wartawan. Ada 24 negara yang memenjarakan sekitar 125 wartawan sepanjang tahun itu. Malah, menurut data CPJ, lebih dari 100 jurnalis terbunuh saat melakukan tugas jurnalistiknya kurun 2003-2005.

Profesi wartawan di banyak negeri terkadang sangat tidak aman. Berbagai ancaman membayangi gerak-gerik mereka. Mulai penyensoran bahan berita, ancaman penangkapan, intimidasi, hingga pembunuhan. Itulah hasil kajian Komisi Perlindungan Jurnalis, CPJ, terhadap profesi wartawan selama 24 tahun.
Buku hasil studi kasus itu mengungkap secara terperinci berbagai tindak kekerasan terhadap wartawan di berbagai pelosok negeri. Mulai Irak, Cina, dari Uzbekistan, Zimbabwe, Amerika Latin, Asia Tenggara, hingga Rusia.

Irak merupakan ranjau kematian bagi wartawan. Negeri ini menduduki peringkat pertama dalam kasus pembunuhan pekerja media. Target pembunuhan antara lain editor, reporter, dan fotografer.
Tahun lalu, sekitar 22 jurnalis dan tiga staf media terbunuh di sana. Selama invasi Amerika, sejak Maret 2003, sudah 60 wartawan dan 22 staf media tewas. Dalam beberapa kasus, tentara Amerika sendiri yang menjadi algojo. Yang dituju umumnya jurnalis yang tak mendukung Amerika dalam pemberitaannya.
Februari 2005, seorang penyiar berita Al-Iraqiya, Raeda Wazzan, kedapatan terbunuh. Raeda sebelumnya sering menerima ancaman pembunuhan. Jawad Kadhem, koresponden Al-Arabiya tertembak dan luka serius di salah satu restoran di Baghdad. Dia dianggap bertanggung jawab atas pemberitaan berjudul “Syi’ah Pendendam”.

Di Basra, kota di bagian selatan, wartawan Amerika, Steven Vincent, diculik dan dibunuh bersama penerjemahnya. Berdasarkan penyelidikan CJP, pembunuhan berkaitan dengan berita tentang kelompok Syi’ah dan penyusupan ke kantor polisi. Fakher Haider, stringer dari The New York Times, pun dibunuh di kota yang sama.

Brasil, sebagai negara yang menjamin kebebasan pers, tak luput dari sorotan. Selama lima tahun terakhir, empat wartawan terbunuh di negeri itu. Di Amerika Latin, kawasan paling tidak aman adalah negeri-negeri yang kental dengan peredaran obat bius. Kolombia masuk daftar lima negara paling berbahaya bagi wartawan. Dalam 10 tahun terakhir, sekitar 28 wartawan terbunuh akibat pekerjaan jurnalistiknya.

Hasil investigasi CJP menyebutkan, ancaman, serangan, dan intimidasi ke alamat wartawan datang dari berbagai sisi secara terus-menerus. Semua tekanan itu berasal dari para gangster, koruptor kakap, dan kartel obat bius.

Setelah Irak, Filipina menduduki posisi kedua yang sangat berbahaya bagi kehidupan wartawan. Sekitar 22 wartawan di negeri itu terbunuh sejak 2000. Tahun lalu saja, empat jurnalis tewas. Diduga pembunuhan akibat pemberitaan kasus korupsi.
Penyiar radio Klein Cantoneros, 32 tahun, ditemukan tewas setelah melaporkan kasus korupsi lewat program acara “People, Wake Up”. Dia ditembak seorang pengendara sepeda motor sepulang dari kantornya di Dipolog City, Mindanao.

Seminggu kemudian, tepatnya 10 Mei 2005, Philip Agustin, Pemimpin Redaksi Starline Times Recorder, menjadi korban. Ia ditembak saat berada di rumah salah seorang saudaranya. Diduga, Agustin dibunuh karena mengungkap kasus korupsi dan ilegal logging di Dingalan.

Walau demikian, menurut catatan CPJ, Filipina menjadi negeri yang memberi angin segar pada wartawan. Pada 29 November 2005, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Guillermo Wapile. Mantan anggota polisi ini menembak mati Edgar Damalerio, peraih penghargaan editor dan komentator radio terbaik negeri itu pada 2002.

Vonis itu bisa dibilang berkat kerja keras janda Damalerio, Gemma, yang terus berjuang agar pembunuh suaminya dihukum. Vonis buat Wapila merupakan putusan pertama dalam kurun lima tahun sejak maraknya kasus pembunuhan para wartawan. Ini tentu jadi pelajaran berharga bagi penegak hukum dan siapa saja yang tidak bisa menghargai kerja jurnalistik.
Rach Alida Bahaweres

Merajut Damai dari Puing Konflik



Ia menggagas, mengawali, dan membuka sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik Poso. Kiprah dan kurikulum damainya untuk perempuan serta anak-anak dianugerahi Coexist Prize.

Meski hanya beralaskan tikar atau kursi seadanya, para perempuan dari berbagai suku, agama, dan golongan itu tampak antusias mengeluarkan ide-idenya. Suasana cair di sebuah sekolah perempuan (SP) di Poso, Sulawesi Tengah, tersebut tidak begitu saja dihadirkan dalam waktu sekejap. Adalah Lian Gogali yang memulai merajut benang saling percaya itu tumbuh, setelah masyarakat tercabik-cabik oleh konflik Poso 2002.

Koflik bernuansa agama itu membuat saling curiga, kebencian, dan permusuhan antar-warga masyarakat pun menyeruak. Perempuan kelahiran Poso, 24 April 1978, itu tahu benar kondisi sosial budaya masyarakat di sana. Pasalnya, pada 2002-2004, ia kerap datang ke sana dalam rangka mengerjakan tesis pascasarjana bertema konflik Poso di Fakultas Budaya dan Agama Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Gugatan muncul ketika seorang responden bertanya. “Setelah meneliti, menulis, dan mendapat gelar, lalu mau apa dengan wawancara ini?” ungkap Lian. Pertanyaan itu mengubah jalan hidupnya. “Saya memutuskan kembali ke Poso dan bekerja untuk isu perempuan dan anak-anak,” katanya.
Begitu kuliahnya kelar, ia memilih bekerja dengan Asian Muslim Action Network (AMAN) sebagai fasilitator SP yang dibangun di Poso. Ketika AMAN menghentikan programnya, berbekal pengalaman dan pembelajaran yang didapatkannya, Lian memutuskan membuat sendiri SP. “Saya percaya ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi aktif,” ujarnya.

Pada 2011, Lian mengawali angkatan pertama SP di rumah kontrakannya. Sekolah itu dinamai Mosintuwu –dari bahasa Poso yang artinya “hidup bersama”. Pada mulanya, sekurangnya 100 ibu rumah tangga biasa lulusan SD dan maksimal SMP yang beragama Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha diajak bergabung. Pertemuan pertama yang diwarnai tatapan mata saling curiga perlahan cari ketika komunitas dilibatkan dalam pembuatan kurikulum.
Institut Mosintuwu yang didirikan Lian juga mengundang akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, dan kaum perempuan untuk mendiskusikan kebutuhan bahan kurikulum sekitar seminggu. Lantas materi yang masuk dielaborasi Lian dengan bantuan Jhon Lusikooy, seorang akademisi yang juga aktivitis sosial di Tentena.

Angkatan pertama SP, Lian melanjutkan, berjumlah 80 orang saja, terdiri dari Kristen 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%. Angkatan kedua 100 orang. Namun biasanya, menurut Lian, ada beberapa yang mengundurkan diri. Begitu lulusan pertama kelar, banyak desa yang minta agar perempuan di desanya dilibatkan dalam SP dan meminta agar SP berdiri di sana.

Melihat besarnya antusiasme, menurut Lian, SP lantas dibangun di tiga kecamatan lain, yakni Kecamatan Lage yang terdiri dari Desa Toyado, Labuan, Malei, Bategencu; Kecamatan Poso Kota yang terdiri dari Desa Bukit Bambu, Sayo, Tegalrejo; dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan yang terdiri dari Desa Tangkura, Betalembah, Patiwunga. Mereka dari berbagai suku, seperti Pamona, Toraja, Bugis, Gorontalo, Bajo, dan Mori.

Tak mudah menggandeng para perempuan. “Ada yang datang dengan dugaan ada uang duduk, setelah tahu tidak ada, terus mundur,” katanya. Lalu, karena pesertanya ibu rumah tangga, sang suami kerap melarang. “Ada anggapan, istrinya sudah tidak memperhatikan rumah tangga dan hanya mau sekolah,” ia menambahkan.

Sementara itu, beberapa warga berpikir, bekerja atau belajar di luar rumah tanpa izin suami tidaklah baik. Muncul pula asumsi bahwa jika ikut SP, ibu-ibu berbicara lebih lantang dan melawan. “Beberapa sempat mengancam lewat SMS,” ungkapnya.

Namun ada pula warga yang mendukung karena istrinya bertambah pintar dan berwawasan ketika diajak berdiskusi. Perubahan paling nyata, menurut Lian, dirasakan para perempuan peserta SP sendiri. “Mereka mulai paham, saling menaruh respek, dan terbuka terhadap perbedaan agama yang ada,” kata perempuan yang telah menulis tiga buku, antara lain Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, itu.

Di sebuah SP yang ada di Pamona, misalnya, sekolah dibuka para peserta dengan menceritakan persoalan yang dialami, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Lalu mereka mencoba saling mendukung, berempati, dan bersumbang saran. Kegiatan juga diisi dengan diskusi, bermain drama, menonton film, analisis film, kunjungan lapangan ke rumah ibadah agama Islam, Kristen, dan Hindu untuk mengenal dan mengetahui agama, membuat film pendek, dan permainan. Sekolah digelar sekali sepekan selama empat jam. Dalam menjalankan SP dan sanggar anak, Lian membiayainya dari honor bekerja sebagai peneliti dan penulis. Nah, suatu ketika, seorang kawan peneliti dari Belanda merekomendasikannya untuk menceritakan mimpi-mimpinya tentang SP ke organisasi Mensen Men Een Missie. “Mereka pun membiayai operasional SP,” tuturnya.

Kali ini, SP angkatan kedua, menurut Lian, dibiayai dari hasil Coexist Prize yang diterimanya pada 20 Maret lalu di Skirball Center, Universitas New York, Amerika Serikat. Penghargaan internasional dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris itu diberikan kepada mereka yang dianggap sebagai unsung hero, sosok tidak dikenal yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian serta gerakan interfaith.

“Saya tidak tahu dan mendadak masuk daftar panjang nominasi. Setelah itu lupa, tidak ingat lagi,” katanya merendah. Lian terpilih dari enam nominator utama yang disaring dari 20 nominator awal. Mereka dipilih dari 300 lebih nominator yang masuk dari seluruh dunia. Lian dan para finalis lolos setelah melalui tahap penjurian yang ketat oleh Dr. Ali Gomaa, Rabbi David Superstein, Bishop Mark S. Hanson, dan Mary Robinson.

Ke depan, Lian ingin menggelar Kongres Perempuan Poso. Kongres ini untuk membuka ruang bicara perempuan Poso sera akses ruang publik dan ruang politik, sehingga perempuan bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan mendapatkan keadilan. “Saya juga ingin membangun sekolah perempuan di beberapa tempat di Indonesia, juga di luar, khususnya di daerah-daerah pasca-konflik,” ujarnya.
Rach Alida Bahaweres

Menikmati Senam





Begini awal mula saya memilih mengikuti kelas senam. Jika masuk siang, agenda saya teratur. Bangun, antar anak ke sekolah, usai bantu masuk, leyeh-leyeh, jemput anak dan berangkat kerja. Permasalahannya, leyeh-leyeh bisa sampai dua jam sebelum menjemput anak. Nah, akhirnya saya memilih untuk mendaftar senam. Kebetulan di kawasan Kalisari, ada sebuah studio senam yangs elalu ramai dan khusus wanita. Sebelum mendaftar, saya sengaja datang untuk mengetahui bagaimana sih aktivitas di studio senam di sana. Teryata asyik!

Keesokan harinya, saya datang bersama pengasuh Ayyas. Biar nggak sendirian. Nah teryata saat saya ke sana pertama kali saya tidak lihat bahwa harus menggunakan sepatu. Alhasil, saya dan pengasuh Ayyas ikut kelas senam Body Language (BL) tanpa sepatu. Kami berkenalan dengan beberapa orang. Instruktur senamnya ramah dan tak segan memperbaiki posisi kita ketika posisi tubuh kita kurang tepat. Untuk biaya per kedatangan bagi kelas BL adalah Rp 20 ribu. Sedangkan untuk kelas aerobik adalah Rp 15 ribu. Senam selama satu jam teryata tak terasa karena sangat menyenangkan. Keringat bercucuran tapi badan menjadi lebih segar.

Beberapa hari kemudian saya memutuskan datang dan langsung ikut kelas. Teryata kala itu adalah kelas aerobik. Gerakannya, ampun cepatnya. Saya agak kerepotan mengikuti gerakannya. Ini berbeda dengan kelas BL yang lebih mengutamakan kelenturan dan fokus pada bagian perut. Memang sih untuk BL kabarnya lebih tepat untuk merampingkan perut yang ‘montok’ seperti saya ini. Hihiii. Tapi sudahlah, saya mencoba menikmati kelas aerobik. Pulangnya, saya daftar sebagai anggota. Pengennya menjadi anggota BL tapi teryata kalau BL untuk pagi ya pagi saja. Begitupula kalau untuk sore. Tidak bisa ikut pagi atau ikut sore bergantian. Alhasil, saya memilih kelas aerobik yang lebih fleksibel. Biayanya Rp 75 ribu untuk delapan kali pertemuan.

Nah, kemarin pagi, 28 Mei saya datang lagi. Saya masih binggung jadwal kelas BL dan kelas aerobik. Setiap libur ya saya datang. Gitu saja kok repot!. Tapi teryata oh teryata, kelas yang saya datangi adalah kelas BL. Bayar lagi deh Rp 20 ribu untuk per sekali datang. Nah di kelas BL ini lebih sepi, gerakan dan musiknya bagi saya menyenangkan. Saya sangat menikmati. Sebelum selesai, kami saling bergantian shit-up. Sekali lagi, untuk perut biar lebih ramping. Tapi beruntungnya kemarin, kami mendapat bonus yani di pijat oleh instrukturnya. Asyik banget …. Jadi, kami diminta tidur terlentang, instruktur berkeliling dan pijat punggung kami. Pas giliran saya, duuh, nikmatnya! Lega! Lega lega!

Pulang senam, saya tertidur. Setelah jemput Ayyas, saya tertidur hingga tiga jam. Lupa kalau akan senam sore. Ah sudahlah, nikmatnya terasa hingga kini!

Enjoy!