Kamis, Desember 11, 2014

Sekolah Terbaik bagi Anak!



Tolak ukur sekolah terbaik bagi anak berbeda-beda. Ada yang memilih alasan jarak, mata pelajaran, guru-guru, kebersihan sekolah hingga biaya pendidikan. Sekolah yang terlalu jauh akan membuat anak akan kelelahan saat menempuh perjalanan. Walaupun ada fasilitas antar jemput, saya pribadi lebih memilih sekolah yang dekat dengan rumah. Terkait mata pelajaran, bagi saya sekolah dasar sebaiknya tidak terlalu penuh dengan berhitung, membaca dan sebagaiannya. Namun pengenalan akhlak, ayat-ayat Al Qur’an, permainan yang menyenangkan, menjadi pilihan saya sebagai orangtua. Ini yang saya rasakan saat Ayyas di TK. Banyak perlombaan mengasah kreativitas anak dan juga melibatkan orangtua. Saya dan suami juga memilih sekolah yang memiliki guru-guru yang bisa diandalkan. Saya memilih guru yang menganggap anak-anak dis ekolah adalah anaknya juga dan bukan anak orang lain. Jika guru menganggap anak didiknya sebagai anaknya sendiri maka perhatian kepada anak menjadi lebih utama.

Saya merasakan manfaatnya selama Ayyas sekolah di TK Al-Biruni. Ayyas sangat diperhatikan dan guru tidak sungkan memberitahukan apapun kepada orangtua. Ayyas saat mengalami mimisan, lima guru menyampaikan kabar Ayyas mimisan. Buku penghubung yang dimiliki TK menjadi sarana orangtua mengetahui apa yang dipelajari anak di sekolah. Persoalan biaya? Nah, ini ada hitungan tersendiri. Walaupun suami istri bekerja, biaya pendidikan yang besar tentu juga memberatkan orangtua. Rabu kemarin, saya bersama Ayyas menuju salah satu sekolah idaman Ayyas SD. Untuk mendaftar, orangtua harus membeli formulir sebesar Rp 400 ribu. Tahun lalu, uang pendaftaran dan uang masuk sekolah bulan pertama sebesar Rp 14 juta. Untuk biaya pendidikan setiap bulan, orangtua harus mengeluarkan biaya Rp 450 ribu. Mahal? Ya begitulah. Ini mungkin sesuai dengan kalimat, ‘Orang Miskin Dilarang Sekolah’.

Bagi yang memiliki pendapatan standar, biaya ini tentu memberatkan. Alternatif sekolah lain, uang pendaftaran di atas Rp 6 juta dengan biaya bulanan di atas Rp 300 ribu. Bersekolah di sekolah negeri belum menjadi pilihan saya dan suami. Alasannya, biarlah saya dan suami yang tahu. Saya belum memutuskan di sekolah mana Ayyas akan bersekolah. Semoga yang terbaik untuk Ayyas *ketjup*

Kamis, November 13, 2014

Memilih Menikah (Lagi)

Apa rasanya ketika orang yang dicintai tiba-tiba mengkhianati? Sakit? Tentu saja!. Dulu mungkin ada yang menganggap kisah ini hanya kisah dalam sinetron, sebuah dongeng, atau khayalan belaka. Tapi belakangan kita sadar, bahwa itu sesuatu yang nyata. Terjadi di sekitar kita. Mengapa saya menulis seperti ini? Ini karena semalam, saya membaca kisah dari buku karya Asma Nadia yang berjudul “Surga yang Tak Dirindukan”. Seperti khas buku Asma Nadia yang kerap menceritakan soal perempuan dan kehidupan rumah tangga. Kisah dalam buku ini mengangkat kehidupan sebuah keluarga yang boleh dikatakan, nyaris sempurna. Apa lagi yang dicari selain anak yang sehat dan pintar, rumah idaman yang berhasil dimiliki, pasangan pernikahan yang mencintai dan dicintai? Tapi teryata, itu semua tak cukup.

Airin, nama tokoh utama di buku, awalnya merasa hidupnya penuh kebahagiaan. Namun, kecurigaan muncul saat mengetahui ada bon-bon kesehatan atas nama perempuan lain di saku suaminya, Pras. Pras yang hanya mengenal cinta saat bertemu istrinya, Airin, teryata jatuh cinta dengan perempuan lain dan memilih menikahinya. Perempuan lain itu bernama Mei Rose, perempuan yang memiliki bayi tanpa suami. Mei Rose, perempuan yang selama ini hidup menderita dan kemudian merasakan mengenal cinta dari Pras. Mei Rose, perempuan yang awalnya ingin bunuh diri kemudian memilih bertahan hidup demi Pras, dan bayi yang dikandungnya.

Saya, sebagai perempuan, selalu tak habis pikir mengapa seseorang memilih untuk menikahi perempuan lain atau dinikahi pria lain. Saya mengetahui bahwa ada aturan agama yang mengatur itu. Tapi soal adil? Siapa yang menjamin seseorang menjadi adil? Adil itu apakah yang satu dapat strawberry sebesar 50 kilogram dan satunya pun demikian? Ah, tak sesederhana itu. Ini urusan hati, urusan perasaan anak-anak yang memiliki masa depan yang panjang. Saya mengenal keluarga yang memilih hidup poligami. Keluarga itu hidup dengan pilihan mereka.

Tapi, saya juga mengenal pria yang memilih menikah lagi untuk kedua kali, padahal dia sendiri tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya sendiri. Bayangkan, hidupnya sendiri. Dan kemudian ketika dia menikah lagi dan memiliki anak, dia tak mampu membiayai hidupnya, hidup istri pertama, hidup dua anak dari istri pertama, hidup istri kedua dan hidup tiga anak dari istri kedua. Bahkan teryata, dia pun telah menikahi perempuan lain. Ribet bukan? Iya begitulah. Saya pernah bertanya, mengapa kamu menikah lagi. Jawabannya, istri terlalu sering bekerja. Ah dari sini saya tahu cintanya tak utuh.

Masalah semakin muncul ketika pria itu kemudian pergi, kedua istrinya tidak memiliki pekerjaan pasti, dan anak-anak pun terlantar.  Siapa yang paling berduka? Anak-anak!. Ketika perempuan itu memilih untuk membagi dan dibagi cinta, dia harus tahu resikonya. Dan kemudian ketika resiko itu datang, kadang tak ada kesiapan. Penyesalan muncul, selalu belakangan. Kalaupun penyesalan itu diterima, pasti dengan hati yang sangat berat. Itu soal menikah lagi.

Cinta yang dibagi berarti, cinta pasangan tidak milik kita secara utuh. Terbagi dengan yang lain, perempuan dan pasangan lain. Kemarin ada kawan saya bercerita tentang kenalannya yang dengan mudahnya menggandeng perempuan dan pria lain padahal mereka telah menikah. Tak ada rasa malu, tak ada penyesalan. Saya terkadang merasa, apa saya hidup di dunia yang salah? Mengapa sesuatu yang dulu dianggap tabu, sekarang dianggap sesuatu yang wajar ?

Saya selalu berdoa agar hidup saya dan pasangan saya selalu dipenuhi cinta. Cinta yang tak akan pernah habis, cinta yang tak dibagi dengan orang lain selain keluarga. Cinta yang selalu dipupuk dengan rindu dan kasih sayang. Cinta yang muncul seperti cinta saya kepada suami, dan cinta suami kepada saya.






   






   

Sabtu, Juli 19, 2014

Memasuki TK B

Pekan ini, saya sibuk. Ada kesibukan tambahan yang belum bisa saya ceritakan disini. Salah satu kesibukan yang mengasyikan adalah menjelang kenaikan kelas Ayyas dari TK A ke TK B. Sebetulnya sudah seminggu ini, Ayyas masuk TK B. Tapi pengumuman dan kejelasan informasi tentang TK B baru disampaikan pada Minggu, 19 Juli pukul 09.00 WIB. Ada beberapa perubahan di TK B ini. Pertama, direncakan untuk menyediakan katering seharga Rp 12 ribu. Jika ada 30 anak yang mengambil pilihan penyediaan katering, maka mereka baru akan pulang pukul 12.45 WIB. Jika anak makan di sekolah, maka anak di ajarkan untuk mandiri dengan makan sendiri. Termasuk makan sayur. Tapi tentu, ini tanpa paksaan.


Kedua, nanti di TK B tetap harus membawa box yang berisi pakaian, sandal, sikat gigi, buku tulis tiga dan buku gambar satu buah. Duduk di kelas TK B berarti seorang anak harus mandiri. Salah satu cara untuk melatih kemandirian salah satunya dengan melaksanakan kemping selama dua hari. Lokasinya belum diketahui. Selain itu, juga akan ada manasik haji untuk TK B. 

BERSAMBUNG

Minggu, Juni 08, 2014

Ayyas Naik Panggung!

Kaget, senang, bangga. Mungkin itulah perasaan yang saya dan suami alami. Betapa tidak, saat anak lain mungkin merasa takut naik ke panggung, Ayyas malah inisiatif naik ke panggung. Tanpa kami minta. Ini terlihat pada Minggu, 7 Juni 2014 di Pejaten Village Mall. Sore hari ada aksi dance Larva, tokoh kartun yang sedang populer. Pembawa acara kemudian menanyakan siapa yang ingin naik ke panggung untuk mendapatkan hadiah. Ayyas kemudian bertanya, “aku pengen naik ke atas (panggung),” katanya. Suami pun mengiyakan. Kemudian, dia pun maju dan naik ke panggung. Oh, ingin rasanya saya berteriak kegirangan karena percaya dirinya tinggi. Di panggung, ia berkumpul dengan 10 anak lain yang merebutkan hadiah.

Kuis yang dilontarkan sebetulnya sederhana. Saat pembawa acara menanyakan dimana kaki, maka anak pun harus menunjukkan kakinya. Ayyas berhasil hingga berkurang menjadi enam orang. Tapi kemudian pertanyaan “dimana mata kaki?, Ayyas menunjukkan mata kemudian kaki. Alhasil, Ayyas pun harus turun panggung. Saya memeluknya dan berkata bahwa dia hebat. Saya pikir mungkin dia hanya akan mau menonton saja. Tapi kemudian, pembawa acara menanyakan siapa saja yang mau ikut goyang ala Larva, Ayyas pun mengangkat tangan dan segera maju. Ah, saya tertawa melihat tingkahnya. Suami saya pun demikian. Tertawa bahagia tentunya.  Kali ini kuisnya, anak-anak diminta untuk joget heboh ala Larva. Awalnya diberikan contoh dan kemudian anak-anak mengikuti. Tapi kemudian, anak-anak diminta untuk joget. Nah, Ayyas asyik berjoget tapi tak heboh. Dia menggerakkan tangan dan badan. Saya tersenyum melihatnya. Dan, lagi-lagi Ayyas harus menerima kenyataan bahwa dia harus turun tanpa membawa hadiah. Saya peluk dia dan dia pun berkata,” Aku pengen dapat hadiah,”. Saya katakan bahwa lain kali akan ikut lagi. Setelah kuis dilakukan, kini sesi foto bersama Larva. Ayyas awalnya mengaku takut. “Larva itu nggak seram. Malah lucu,” kata saya. Dia pun kemudian memilih untuk maju dan berfoto bersama Larva. Bahkan dua kali!

Saat pembawa acara mengatakan akan ada rehat 30 menit, Ayyas masih ingin tetap mengikuti. Tapi kala itu sudah pukul 19.00 WIB. Terlalu malam bagi kami. Untunglah, Ayyas mengikuti saran kami. Bagi saya, pengalaman hari Minggu kemarin adalah sesuatu yang membahagiakan. Saya dan suami ingin Ayyas menjadi percaya diri. Tidak kenal takut tapi juga sopan. Ketika anak muncul keinginan untuk naik dan berhadapan dengan banyak orang yang tidak dia kenal, itu menunjukkan keberaniannya.

Sebetulnya kami pernah sampaikan agar Ayyas tak malu  atau tak mau menjawab saat ditanya oleh saudara atau teman. Teryata, saran kami di dengar. Setiap kali ditanya, ia dengan lugas menjawab tanpa rasa takut. Tapi tentu pertanyaan itu dijawab dengan baik. Sebagai orangtua, kami mungkin tidak boleh menjadi otoriter dan memaksa kehendak kepada anak. Tapi ada hal-hal mendasar yang perlu diajarkan bagi anak sejak dini. Misalnya agar anak tak takut, percaya diri serta menghormati sesama. Jika ini dilakukan anak, betapa bahagianya orangtua.


Jakarta, 8 Juni 2014 

Selasa, Juni 03, 2014

Saya, Pengguna Setia Commuterline

Bagi saya, menggunakan commuterline memperpendek jarak, menghemat pengeluaran. Maka, hampir setiap hari saya menggunakan commuterline dari stasiun Universitas Indonesia menuju Tanah Abang lalu disambung ke Palmerah. Ya, hampir setiap hari. Dan menggunakan CRL (commuterline) akan penuh dengan para penumpang.

Saat CRL datang, saya harus menahan napas ketika mengetahui di dalam CRL teryata penuh sesak. Menunggu CRL lain datang, bisa 10-15 menit lagi. Itu kalau anda beruntung. Tapi, saya terkadang memilih untuk menggunakan CRL yang tiba terlebih dahulu. Penumpang harus memaksakan diri untuk masuk ke dalam CRL. Mendengarkan teriakan karena ada yang merasa sesak? Ah, itu sudah biasa. Ketika posisi berada di depan pintu CRL, saya harus berhati-hati pintu tidak akan tertutup. JIka pintu CRL tidak tertutup, maka CRL tidak akan tertutup. Maka, terkadang ada juga penumpang yang berpegangan di atas pintu, mendorong badannya ke belakang hingga pintu tertutup.

Pintu tertutup, CRL pun melaju. Berada di dalam CRL, panasnya terasa. Pendingin udara tak lagi terasa. Keringat pun bercucuran. Tak mungkin menggunakan kertas untuk mengkipasi tubuh. Mengapa? Bergerak saja susah! Maka, yang bisa dilakukan adalah diam, pasrah. Padahal di dalam CRL seharusnya terasa dingin. Apalagi ditambah kipas angin. Tapi percayalah, dalam keadaan penuh sesak, angin pun hampir tak terasa. Tak heran, beberapa kemudian ada yang memilih membuka jendela CRL agar angin masuk ke dalam CRL. Cara ini tergolong jitu untuk menambah kesejukan. Tapi itu akan berguna jika berada di depan jendela. Jika tidak, saya ucapkan selamat berkeringat.

Masalah kembali muncul saat hendak keluar dari CRL. Bagaimana kelua pada saat kereta panas dan penuh sesak? Pertama, minta ijin terlebih dahulu kalau akan keluar. Biasanya, biasanya loh masih saja ada yang dengan rela membiarkan badanya penuh himpitan agar penumpang lain bisa keluar. Tentu saja sambil menahan sakit karena terhimpit.

Saya selalu sedih jika ada ibu hamil, orang tua atau anak kecil yang akan masuk ke dalam CRL yang penuh sesak. Saya tahu, jika mereka boleh memilih, mereka pasti akan menggunakan taksi, mobil pribadi atau sarana transportasi lain yang lebih nyaman dibandingkan CRL yang penuh sesak. Tapi itu jika mereka ada pilihan. Bagaimana kalau mereka tak ada dana untuk menggunakan transportasi umum lainnya? Sayangnya, tak semua penumpang CRL menyadari kalau ada keterbatasan itu. Alhasil, masih ada ibu hamil yang terpaksa berdiri dan baru bisa duduk jika ada yang berteriak, ”ada ibu hamil kasih tempat duduk”. Begitulah. Tapi saya pernah berulangkali minta agar ibu hamil dikasih tempat duduk, tapi ini tidak digubris. Saya mempertanyakan kepekaannya. Seolah sudah mati rasa. Tapi, itulah yang terjadi.


Saya salut dengan mereka, masih tetap saja menggunakan CRL. Tetap saja bekerja, menempuh perjalanan dengan kondisi yang sangat tidak nyaman. Tapi saya tidak tahu, apakah mereka memiliki pilihan atau tidak. Menurut anda? 

Minggu, Juni 01, 2014

Outbound Bersama Ayyas? Menyenangkan!

Belum pernah saya outbound bersama Ayyas. Baru sekali, yakni pada Sabtu 31 Mei 2014. Ceritanya, sekolah Ayyas di TK Al Biruni melaksanakan kegiatan outbound orangtua dan anak di kawasan Citra Alam, Jawa Barat. Ayyas tampak antusias saat mengetahui akan berlibur bersama teman-temannya. “Ayo ummi kita ke Puncak. Aku mau nginap di Puncak,” celoteh Ayyas. Kepadanya, saya katakan bahwa kita tidak ke Puncak, tapi ke Bogor. Tapi Ayyas bersikukuh kalau liburanya diadakan di Puncak. Dan teryata dia benar!

Pukul 04.00 WIB, Ayyas bangun tidur. Setengah jam kemudian dia minta mandi. Mandi di pagi hari tentu dingin sekali. Untunglah, suami memilih untuk memasakkan air panas untuk dia mandi. Usai mandi, Ayyas saya suapin sarapan. Dia lahap sekali. Mungkin bersemangat akan berlibur. Setengah jam kemudian, kami bergegas menuju ke kantor LAPAN, tempat berkumpul sebelum ke lokasi. Tiba di sana, sudah banyak orangtua beserta anak yang menunggu. Beruntung, tak lama kemudian bus pun segera bergerak menuju ke Puncak.

Teryata di perjalanan, macet pun kami alami. Alhasil, butuh waktu hingga 3,5 jam untuk tiba di kawasan Citra Alam, Puncak, Jawa Barat. Lokasinya tidak begitu jauh drai Taman Wisata Matahari. Hanya saja, jalan menuju ke sana sempit. Tak ada penanda yang mencolok terkait lokasi itu. Dari jalan raya, hanya cukup satu mobil saja. Untuk mobil saja kesulitan, apalagi bus. Tapi mau tak mau, bus pun mencoba masuk. Sepertinya walaupun jalan demikian sempit tapi sudah banyak bus yang menuju ke sana. Nah, ada inisden kecil saay tanjakan menuju lokasi. Tiba-tiba, bus yang kami tumpangi mogok. Saat bus mencoba berjalan di tanjakan, terpaksa harus rem mendadak. Spontan, satu bus pun menjerit. Setelah tiga kali berada di posisi seperti itu, kami pun memutuskan untuk turun dari bus dan berjalan. Badan bergetar saking ketakutan. Anak-anak pun sebagian pun merasakan ketakutan yang kami alami. “Keluar cepat, tak usah membawa tas,” begitu instruksi yang kami dengar. Walaupun sudah turun, badan kami masih gemetar ketakutan. Hampir saja kami tak mau naik ke bus lagi. “Takut, trauma,” begitu coleteh sebagian penumpang. Tapi dengan berharap cemas, kami kembali naik ke bus. Berharap semua baik-baik saja.


Syukurlah, perjalanan bus menjadi lancar. Bus berhenti di sebuah lapangan besar yang mampu menampung hingga lebih dari 10 bus. Walaupun dari luar terlihat sempit, tapi di dalam teryata luas sekali. Dari tempat pemberhentian itu, kami masih harus mengendarai mobil untuk membawa kami ke lokasi outbound. Tapi jujur, kami masih saja trauma insiden sebelumnya.  

Kamis, Mei 29, 2014

Bisnis Sewa Tas



Mau tampil mentereng, tentenglah tas merek beken. Tak perlu beli jika kantong cekak. Dengan sistem sewa, duit hemat, gengsi pun dapat.

Dior. Toscano. Versace. Prada. Merek-merek beken itu tak asing lagi di mata wanita kalangan atas. Ke mana pun kaki melangkah, rasanya tak afdol bila tidak menenteng tas karya perancang top dunia itu. Meski harus dibeli dengan harga selangit, tak masalah demi gengsi.

Tetapi, jika gonta-ganti tas merek beken, kantong pun bisa jebol. Apalagi, biasanya tas hanya dipakai sekali. Setelah itu jadi pajangan. Bagaimana menyiasati agar bisa menyandang tas bergengsi tanpa menguras kocek? Dewi Hendrawan punya cara jitu.

Wanita 30 tahun itu tak perlu repot-repot membeli tas berbagai merek. Jika perlu, ia cukup datang ke persewaan tas Smart Diva. Satu merek bisa sekali pakai, berikutnya ganti merek lain. Siapa yang tahu bahwa tasnya barang sewaan.

Sejak mengetahui ada tempat persewaan, ia memilih menyewa ketimbang membeli setiap kali butuh tas. Manajer artis itu kali pertama menyewa tas merek Dior Rp 500.000 sehari. “Saya butuh untuk menghadiri ulang tahun teman. Semua tamunya orang terkenal,” ujar Dewi.
Di pesta bertabur selebriti itu, ia harus tampil berkelas. Toh, tidak ada satu pun pengunjung pesta mengetahui bahwa ia menenteng tas sewaan. “Saya nggak bilang siapa-siapa,” ucap Dewi setengah berbisik. Lagi pula, tas mahal yang ditenteng Dewi tidak distempel “sewa”.

Kini perempuan kelahiran Jakarta, 1 Agustus 1976, itu mengaku sering gonta-ganti tas merek terkenal. Untuk itu, ia harus bolak-balik ke Smart Diva. “Lebih baik sewa tapi asli daripada beli tapi palsu,” ungkap Dewi.
Sebelumnya, Dewi pernah memiliki tas Toscano seharga Rp 2 juta. Tetapi ia tidak sempat merawatnya. Akibatnya, tas itu tak dapat dipakai lagi. “Susah banget menjaga kualitas tas,” Dewi mengeluh. Tak mengherankan, ia sekarang lebih suka menyewa ketimbang membeli dan merawat tas berkualitas tinggi.
Pemilik Smart Diva, Amanda Sari, menyatakan bahwa sewa-menyewa tas merek terkenal sudah jamak bagi sejumlah wanita kelas menengah atas Jakarta. Budaya ”irit” itulah yang menginspirasi Amanda untuk membuka gerai persewaan tas. Untuk menjalankan bisnisnya, ia merangkul Jessica Schwarze, sahabatnya.
Amanda dan Jessica merintis bisnis persewaan tas beken, pertengahan tahun ini. Mereka hanya menyediakan merek dunia yang sudah ngetop di kalangan jetset, macam Versace, Prada, Chole, LV, Tod’s, YSL, Balenciaga, dan Fendi.

Awalnya Amanda dan Jessica adalah penggemar tas. Lantaran tas berharga jutaan rupiah itu hanya sekali dua kali dipakai, puluhan koleksi tasnya hanya menjadi pajangan. Setelah berburu informasi di internet, terbersitlah ide untuk membuat gerai persewaan tas. Situs-situs luar negeri seperti Bag Borrow or Steal dan From Bag To dijadikan rujukan.

Semula, banyak yang mencibir usaha yang dirintis dua wanita itu. “Gila aja, tas kok disewakan,” ucap Jessica, menirukan komentar beberapa orang. Tetapi niat mereka sudah mantap. Tak peduli anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. “Ini yang pertama kali di Indonesia,” ujar Jessica mantap.
Dengan modal Rp 100 juta, mereka mulai berburu tas-tas merek ternama. Tak perlu ke luar negeri, cukup mendatangi Plaza Indonesia dan Plaza Senayan. Setelah terkumpul 20 jenis tas, layanan persewaan tas pun dipublikasikan. Para calon pemesan bisa mengakses situs http://www.smart-diva.com.
Setelah menemukan tas yang diinginkan, cukup dengan menelepon, lalu pesanan segera diantar. Basecamp tempat persewaan adalah di rumah Amanda di Perumahan Pondok Indah, Jakarta. Kala itu, setiap akhir pekan, lima hingga 10 orang memesan tas.

Lantaran pelanggan makin berjibun, sejak 18 September lalu, Smart Diva membuka gerai di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. “Supaya lebih bergengsi,” ucap Jessica. Di gerai itu tersedia sekitar 50 item tas yang bisa disewa. Harga sewanya bervariasi, tergantung klasifikasi yang diberikan.
“Kami membaginya menjadi tiga tingkatan,” kata Jessica. Tingkat pertama adalah couture, yakni tas-tas yang harganya di atas Rp 10 juta. Selanjutnya kelas diva, dengan harga Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Terakhir kelas princess, yang ditujukan bagi tas seharga Rp 5 jutaan.

Jenis tas couture nilai sewanya sekitar Rp 1,8 juta per bulan. Diva dibanderol sekitar Rp 900.000 per bulan, sedangkan princess memiliki tarif sekitar Rp 550.000 per bulan. Ada keistimewaan lain apabila menyewa tas selama sebulan. “Bisa ditukar dengan jenis lain selama tiga kali dalam sebulan,” ungkap Jessica.
Selain itu, harga sewa juga tergantung mereknya. Misalnya merek Versace Metallic, yang harganya Rp 20 juta, dapat disewa dengan harga sekitar Rp 1,750 juta per dua minggu. Maklum, tas merek itu pernah digunakan Madonna. Ada juga merek Fendi Lace Embroidery Bag seharga Rp 30 juta, kesayangan artis Jessica Simpson, yang bisa disewa seharga Rp 2.500.000 per dua minggu.

Paling eksklusif, tas merek Hermess, yang harga jualnya Rp 120 juta, dapat disewa dengan harga Rp 6 juta per bulan. Jessica pernah menyewakan tas merek Lois Vuitton Bucket Bag, yang harganya Rp 30 juta, Rp 3 juta per dua hari. “Setelah itu, tas tersebut kami jual seharga Rp 28 juta,” tutur wanita cantik kelahiran Jakarta, 13 April 1973, itu.

Mereka yang tak sempat mendatangi gerai bisa mengunjungi gerai maya di situs Smart Diva. Di situs ini terdapat formulir khusus untuk penyewaan tas. “Bisa juga formulir itu difaks,” kata Jessica. Persyaratan untuk menyewa tas ini tergolong mudah. Cukup mengisi formulir pendaftaran serta menyertakan fotokopi KTP/paspor dan berdomisili di Jakarta.

Kini Smart Diva telah memiliki 120 pelanggan, dengan jumlah item tas sebanyak 27 buah. Setiap bulan dilakukan pembaruan jenis tas. Mayoritas penyewa berasal dari golongan menengah ke atas. Mulai mahasiswa, eksekutif muda, hingga ibu-ibu rumah tangga. “Pokoknya, segala lapisan masyarakat,” ujar Jessica.
Rach Alida Bahaweres

Maut Mengintai Wartawan



Irak merupakan ranjau pembunuhan terbesar: 60 nyawa wartawan melayang. Tapi Filipina merupakan negeri, di mana nyawa wartawan jadi incaran para koruptor.

ATTACK ON THE PRESS IN 2005
Editor: Bill Sweeney
Penerbit: Committee to Protect Journalist, New York, 2006, 311 halaman

TAHUN 2005 merupakan saat paling menyedihkan bagi para wartawan. Ada 24 negara yang memenjarakan sekitar 125 wartawan sepanjang tahun itu. Malah, menurut data CPJ, lebih dari 100 jurnalis terbunuh saat melakukan tugas jurnalistiknya kurun 2003-2005.

Profesi wartawan di banyak negeri terkadang sangat tidak aman. Berbagai ancaman membayangi gerak-gerik mereka. Mulai penyensoran bahan berita, ancaman penangkapan, intimidasi, hingga pembunuhan. Itulah hasil kajian Komisi Perlindungan Jurnalis, CPJ, terhadap profesi wartawan selama 24 tahun.
Buku hasil studi kasus itu mengungkap secara terperinci berbagai tindak kekerasan terhadap wartawan di berbagai pelosok negeri. Mulai Irak, Cina, dari Uzbekistan, Zimbabwe, Amerika Latin, Asia Tenggara, hingga Rusia.

Irak merupakan ranjau kematian bagi wartawan. Negeri ini menduduki peringkat pertama dalam kasus pembunuhan pekerja media. Target pembunuhan antara lain editor, reporter, dan fotografer.
Tahun lalu, sekitar 22 jurnalis dan tiga staf media terbunuh di sana. Selama invasi Amerika, sejak Maret 2003, sudah 60 wartawan dan 22 staf media tewas. Dalam beberapa kasus, tentara Amerika sendiri yang menjadi algojo. Yang dituju umumnya jurnalis yang tak mendukung Amerika dalam pemberitaannya.
Februari 2005, seorang penyiar berita Al-Iraqiya, Raeda Wazzan, kedapatan terbunuh. Raeda sebelumnya sering menerima ancaman pembunuhan. Jawad Kadhem, koresponden Al-Arabiya tertembak dan luka serius di salah satu restoran di Baghdad. Dia dianggap bertanggung jawab atas pemberitaan berjudul “Syi’ah Pendendam”.

Di Basra, kota di bagian selatan, wartawan Amerika, Steven Vincent, diculik dan dibunuh bersama penerjemahnya. Berdasarkan penyelidikan CJP, pembunuhan berkaitan dengan berita tentang kelompok Syi’ah dan penyusupan ke kantor polisi. Fakher Haider, stringer dari The New York Times, pun dibunuh di kota yang sama.

Brasil, sebagai negara yang menjamin kebebasan pers, tak luput dari sorotan. Selama lima tahun terakhir, empat wartawan terbunuh di negeri itu. Di Amerika Latin, kawasan paling tidak aman adalah negeri-negeri yang kental dengan peredaran obat bius. Kolombia masuk daftar lima negara paling berbahaya bagi wartawan. Dalam 10 tahun terakhir, sekitar 28 wartawan terbunuh akibat pekerjaan jurnalistiknya.

Hasil investigasi CJP menyebutkan, ancaman, serangan, dan intimidasi ke alamat wartawan datang dari berbagai sisi secara terus-menerus. Semua tekanan itu berasal dari para gangster, koruptor kakap, dan kartel obat bius.

Setelah Irak, Filipina menduduki posisi kedua yang sangat berbahaya bagi kehidupan wartawan. Sekitar 22 wartawan di negeri itu terbunuh sejak 2000. Tahun lalu saja, empat jurnalis tewas. Diduga pembunuhan akibat pemberitaan kasus korupsi.
Penyiar radio Klein Cantoneros, 32 tahun, ditemukan tewas setelah melaporkan kasus korupsi lewat program acara “People, Wake Up”. Dia ditembak seorang pengendara sepeda motor sepulang dari kantornya di Dipolog City, Mindanao.

Seminggu kemudian, tepatnya 10 Mei 2005, Philip Agustin, Pemimpin Redaksi Starline Times Recorder, menjadi korban. Ia ditembak saat berada di rumah salah seorang saudaranya. Diduga, Agustin dibunuh karena mengungkap kasus korupsi dan ilegal logging di Dingalan.

Walau demikian, menurut catatan CPJ, Filipina menjadi negeri yang memberi angin segar pada wartawan. Pada 29 November 2005, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Guillermo Wapile. Mantan anggota polisi ini menembak mati Edgar Damalerio, peraih penghargaan editor dan komentator radio terbaik negeri itu pada 2002.

Vonis itu bisa dibilang berkat kerja keras janda Damalerio, Gemma, yang terus berjuang agar pembunuh suaminya dihukum. Vonis buat Wapila merupakan putusan pertama dalam kurun lima tahun sejak maraknya kasus pembunuhan para wartawan. Ini tentu jadi pelajaran berharga bagi penegak hukum dan siapa saja yang tidak bisa menghargai kerja jurnalistik.
Rach Alida Bahaweres

Merajut Damai dari Puing Konflik



Ia menggagas, mengawali, dan membuka sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik Poso. Kiprah dan kurikulum damainya untuk perempuan serta anak-anak dianugerahi Coexist Prize.

Meski hanya beralaskan tikar atau kursi seadanya, para perempuan dari berbagai suku, agama, dan golongan itu tampak antusias mengeluarkan ide-idenya. Suasana cair di sebuah sekolah perempuan (SP) di Poso, Sulawesi Tengah, tersebut tidak begitu saja dihadirkan dalam waktu sekejap. Adalah Lian Gogali yang memulai merajut benang saling percaya itu tumbuh, setelah masyarakat tercabik-cabik oleh konflik Poso 2002.

Koflik bernuansa agama itu membuat saling curiga, kebencian, dan permusuhan antar-warga masyarakat pun menyeruak. Perempuan kelahiran Poso, 24 April 1978, itu tahu benar kondisi sosial budaya masyarakat di sana. Pasalnya, pada 2002-2004, ia kerap datang ke sana dalam rangka mengerjakan tesis pascasarjana bertema konflik Poso di Fakultas Budaya dan Agama Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Gugatan muncul ketika seorang responden bertanya. “Setelah meneliti, menulis, dan mendapat gelar, lalu mau apa dengan wawancara ini?” ungkap Lian. Pertanyaan itu mengubah jalan hidupnya. “Saya memutuskan kembali ke Poso dan bekerja untuk isu perempuan dan anak-anak,” katanya.
Begitu kuliahnya kelar, ia memilih bekerja dengan Asian Muslim Action Network (AMAN) sebagai fasilitator SP yang dibangun di Poso. Ketika AMAN menghentikan programnya, berbekal pengalaman dan pembelajaran yang didapatkannya, Lian memutuskan membuat sendiri SP. “Saya percaya ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi aktif,” ujarnya.

Pada 2011, Lian mengawali angkatan pertama SP di rumah kontrakannya. Sekolah itu dinamai Mosintuwu –dari bahasa Poso yang artinya “hidup bersama”. Pada mulanya, sekurangnya 100 ibu rumah tangga biasa lulusan SD dan maksimal SMP yang beragama Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha diajak bergabung. Pertemuan pertama yang diwarnai tatapan mata saling curiga perlahan cari ketika komunitas dilibatkan dalam pembuatan kurikulum.
Institut Mosintuwu yang didirikan Lian juga mengundang akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, dan kaum perempuan untuk mendiskusikan kebutuhan bahan kurikulum sekitar seminggu. Lantas materi yang masuk dielaborasi Lian dengan bantuan Jhon Lusikooy, seorang akademisi yang juga aktivitis sosial di Tentena.

Angkatan pertama SP, Lian melanjutkan, berjumlah 80 orang saja, terdiri dari Kristen 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%. Angkatan kedua 100 orang. Namun biasanya, menurut Lian, ada beberapa yang mengundurkan diri. Begitu lulusan pertama kelar, banyak desa yang minta agar perempuan di desanya dilibatkan dalam SP dan meminta agar SP berdiri di sana.

Melihat besarnya antusiasme, menurut Lian, SP lantas dibangun di tiga kecamatan lain, yakni Kecamatan Lage yang terdiri dari Desa Toyado, Labuan, Malei, Bategencu; Kecamatan Poso Kota yang terdiri dari Desa Bukit Bambu, Sayo, Tegalrejo; dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan yang terdiri dari Desa Tangkura, Betalembah, Patiwunga. Mereka dari berbagai suku, seperti Pamona, Toraja, Bugis, Gorontalo, Bajo, dan Mori.

Tak mudah menggandeng para perempuan. “Ada yang datang dengan dugaan ada uang duduk, setelah tahu tidak ada, terus mundur,” katanya. Lalu, karena pesertanya ibu rumah tangga, sang suami kerap melarang. “Ada anggapan, istrinya sudah tidak memperhatikan rumah tangga dan hanya mau sekolah,” ia menambahkan.

Sementara itu, beberapa warga berpikir, bekerja atau belajar di luar rumah tanpa izin suami tidaklah baik. Muncul pula asumsi bahwa jika ikut SP, ibu-ibu berbicara lebih lantang dan melawan. “Beberapa sempat mengancam lewat SMS,” ungkapnya.

Namun ada pula warga yang mendukung karena istrinya bertambah pintar dan berwawasan ketika diajak berdiskusi. Perubahan paling nyata, menurut Lian, dirasakan para perempuan peserta SP sendiri. “Mereka mulai paham, saling menaruh respek, dan terbuka terhadap perbedaan agama yang ada,” kata perempuan yang telah menulis tiga buku, antara lain Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, itu.

Di sebuah SP yang ada di Pamona, misalnya, sekolah dibuka para peserta dengan menceritakan persoalan yang dialami, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Lalu mereka mencoba saling mendukung, berempati, dan bersumbang saran. Kegiatan juga diisi dengan diskusi, bermain drama, menonton film, analisis film, kunjungan lapangan ke rumah ibadah agama Islam, Kristen, dan Hindu untuk mengenal dan mengetahui agama, membuat film pendek, dan permainan. Sekolah digelar sekali sepekan selama empat jam. Dalam menjalankan SP dan sanggar anak, Lian membiayainya dari honor bekerja sebagai peneliti dan penulis. Nah, suatu ketika, seorang kawan peneliti dari Belanda merekomendasikannya untuk menceritakan mimpi-mimpinya tentang SP ke organisasi Mensen Men Een Missie. “Mereka pun membiayai operasional SP,” tuturnya.

Kali ini, SP angkatan kedua, menurut Lian, dibiayai dari hasil Coexist Prize yang diterimanya pada 20 Maret lalu di Skirball Center, Universitas New York, Amerika Serikat. Penghargaan internasional dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris itu diberikan kepada mereka yang dianggap sebagai unsung hero, sosok tidak dikenal yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian serta gerakan interfaith.

“Saya tidak tahu dan mendadak masuk daftar panjang nominasi. Setelah itu lupa, tidak ingat lagi,” katanya merendah. Lian terpilih dari enam nominator utama yang disaring dari 20 nominator awal. Mereka dipilih dari 300 lebih nominator yang masuk dari seluruh dunia. Lian dan para finalis lolos setelah melalui tahap penjurian yang ketat oleh Dr. Ali Gomaa, Rabbi David Superstein, Bishop Mark S. Hanson, dan Mary Robinson.

Ke depan, Lian ingin menggelar Kongres Perempuan Poso. Kongres ini untuk membuka ruang bicara perempuan Poso sera akses ruang publik dan ruang politik, sehingga perempuan bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan mendapatkan keadilan. “Saya juga ingin membangun sekolah perempuan di beberapa tempat di Indonesia, juga di luar, khususnya di daerah-daerah pasca-konflik,” ujarnya.
Rach Alida Bahaweres