Senin, Februari 19, 2007

HIBURAN

Kepolosan yang MenggemaskanTukul Arwana menyodorkan fakta ini: pelawak katro plus skrip bagus menghasilkan rating tinggi. Dikontrak hingga 266 episode.

Seperti beberapa tahun lalu, gaya lawakan Tukul Arwana tetap sama. Kedua tangannya seakan menjumput, rambut crew cut kotak, dan bertepuk tangan seperti si topeng monyet. Tambahan terbarunya ialah gaya itu disandingkan dengan gestur baru: dua jari diarahkan ke mata lalu ke arah laptop.Serta melontarkan kalimat khas: ''Kembali ke laptop!'' Kalimat itu kini menjadi guyonan generik ketika sebuah rapat atau presentasi kantoran menemukan jalan buntu.

Disodori acara berformat 'ariety (talk) show saban Senin-Jumat selama sejam sejak pukul 22.00 oleh Trans 7, jelas saja kalimat itu terserap dengan baik.Walau diucapkan puluhan kali, kalimat itu tak membosankan. Ia justru menjadi identitas acara bertajuk ''Empat Mata'' tersebut. Ibarat sayur tanpa garam, begitu pula yang terjadi antara kalimat ''kembali ke laptop'' dan acara itu. Gaya kampungan Tukul menjadi bumbu lain yang menyedapkan sajian ''Empat Mata''.Ditambah kalimat ''narsis'' yang terlontar --misalnya ''saya kan coverboy'' dan ''acara ini terkenal di tiga negara''-- lalu bahasa Inggris asal jadi (''Jangan lupa paswednya fish to fish''), serta ''serangan'' usil, jail, melecehkan (misalnya, ''Cantik-cantik kok lamban,'' kata Tukul kepada Davina ketika sang model agak kurang cepat menjawab pertanyaannya), makin lengkap kehebohan acara tersebut.Makin acara itu ancur (begitu seorang teman saya menyodorkan stempel buat program itu), gelak tawa penonton di Studio Hanggar, tempat syuting acara tersebut, dan ratusan ribu pasang lainnya di depan layar kaca makin nyaring terdengar.

Namun bukan berarti Tukul benar-benar bodoh ketika menggiring beberapa narasumber ke tema besar satu episode. Ketika Maria Eva mengklaim dirinya adalah korban, Tukul dengan cepat menyodorkan kalimat: ''Kira-kira dibanding korban lumpur Lapindo, lebih menderita mana?''Semua orang tahu bahwa pertanyaan yang dilontarkan Tukul diarahkan oleh tim pimpinan Andri Loenggana, produser acara tersebut. Namun, kalau bukan Tukul yang membacakannya, mungkin ''kepolosan yang menggemaskan'' tak akan tercipta. '

'Lho, ini kan pertanyaan tadi. Kok, belum dihapus?'' katanya, sambil melihat ke operator yang mengendalikan laptop ketika hendak membacakan pertanyaan baru.Narasumber yang dihadirkan pun tahu bagaimana bergantungnya Tukul pada laptop-nya, walau ia mengaku ''gaptek''. ''Nutup aja nggak berani. Takut rusak,'' katanya. Personel Project Pop, misalnya, lantas menyembunyikan laptop tadi (juga kertas contekan cadangan). Walhasil, Tukul pun gelagapan.Ketika banyolan macam itu tak bisa dihadirkan narasumber lain, mereka melakukannya dengan cara mempermainkan atau mengolok-olok pertanyaan yang dilontarkan Tukul.

Pepeng, drummer band Naif, misalnya, tanpa disangka-sangka naik ke punggung Tukul, lalu bergaya seperti koboi. Atau Indra Birowo yang tak segan-segan meminta Tukul mencium ketiaknya.Menonton ''Empat Mata'' jadinya seperti menyaksikan Srimulat dengan penampilan baru. Tukul dan penggagas program itu menampik format yang meniru talkshow ringan luar negeri. Atau mengikuti format hampir serupa yang pernah disodorkan beberapa stasiun televisi lain sebelumnya.Kalau format acara ini akhirnya seperti sekarang, itu tak lepas dari hasil kompromi stasiun televisi tersebut atas persyaratan yang diajukan Tukul. Pria kelahiran Semarang, 16 Oktober 1963, ini menolak peran pembawa acara atau moderator walau tahu program yang dibawakannya mengisyaratkan perlunya bobot.''Saya lebih percaya diri sebagai pelawak,'' begitu alasannya. Pihak Trans 7 setuju. D

emikian juga ketika Tukul meminta tak ada jarak antara dirinya dan para penonton yang berjumlah sekitar 200 orang itu.Kompromi itu sekarang dinikmati Trans 7. ''Empat Mata'' meraih rating 3,3 dengan audience share 13,1. Bila semula acara itu hanya ditayangkan sekali seminggu, kini menjadi lima kali (ditayangkan live pada Selasa, Rabu, dan Kamis, serta rekaman pada Senin dan Jumat).Tukul pun mendapat rezeki. Jika awalnya dia dikontrak hanya 13 episode, lantas menjadi 26 episode, kini kontraknya menjadi 266 episode. Penggemarnya bertambah banyak, hingga ada yang memasukkan profilnya di situs Wikipedia Indonesia.
Carry Nadeak dan Rach Alida Bahaweres

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

1 komentar:

  1. Tukul...sampai kapan ya bertahan gaya lawakan kayak gini.

    Alida, yo opo kabare? FS -ku diblokir kntr. Ngga pernah aktif lagi. Pasang ShotBox biar bisa say hello. Gimana keadaan di sana. Jakarta sudah kau taklukan ?

    BalasHapus