Senin, Februari 19, 2007

EKONOMI & BISNIS
Primasel Datang Menggandeng AsingGrup
Sinar Mas mengibarkan bendera Primasel untuk berkompetisi di jalur seluler berbasis CDMA. Menggandeng mitra dari Rusia?
Tergusur dari jalur 3G tidak membuat Wireless Indonesia (WIN) minggir dari bisnis ''halo-halo''. Anak usaha Grup Sinar Mas itu pun bergabung dengan PT Indoprima Mikroselindo. Perjodohan ini kemudian melahirkan merek baru layanan telepon seluler bernama Primasel. Dengan saham mayoritas di tangan Grup Sinar Mas, operator anyar tersebut siap turun gelanggang dengan mengusung teknologi CDMA (code division multiple-access) 2000 1X EV-DO.Saat ini, jalur CDMA disesaki empat pemain lawas, yakni PT Telkom Tbk (TelkomFlexi), PT Indosat Tbk (StarOne), PT Mobile 8 Telecom (Fren), dan PT Bakrie Telecom (Esia). Kehadiran Primasel dipastikan bakal menyulut bara kompetisi di ladang telepon seluler berbasis CDMA.

Direktur Primasel Ubaidillah Fatah memastikan, Primasel akan meluncurkan produknya pada Februari atau Maret nanti.Pada tahap pertama, Primasel akan membangun jaringan telekomunikasi dengan jumlah BTS mencapai 1.000 unit, khususnya untuk daerah Jawa dan Bali. Mengingat bisnis seluler membutuhkan modal gede, Ubaidillah mengisyaratkan bahwa pihaknya bakal menggandeng mitra asing.Untuk mengepakkan sayap bisnis selulernya, Grup Sinar Mas dikabarkan berkongsi dengan Altimo, perusahaan seluler asal Rusia.

Sebagai langkah awal, pihak Altimo menggelontorkan dana senilai US$ 2 juta. Sebelumnya, Altimo yang resmi diluncurkan pada Desember 2005 telah menebar modal di sejumlah negara pecahan Uni Soviet, seperti Ukraina, Kazakstan, Uzbekistan, dan Georgia.Wakil Presiden Altimo, Kirill Babaev, mengungkapkan bahwa pihaknya melihat potensi bisnis telekomunikasi di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara cukup bersinar. ''Kami antusias untuk memperbesar bisnis seluler, dengan masuk ke pasar Asia Selatan dan Asia Tenggara yang sedang berkembang pesat,'' katanya.Bagi Altimo, Indonesia bak ladang emas yang mengundang selera. Sebab, kata Kirill, Indonesia memiliki populasi penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi.

Lagi pula, penetrasi telepon selulernya lamban dan tingkat kompetisinya relatif rendah. Kondisi ini ideal untuk memetik keuntungan tinggi. Namun Kirill membantah bahwa pihaknya telah menggandeng Primasel sebagai pendatang baru dalam industri telekomunikasi. ''Altimo belum memutuskan siapa yang akan menjadi mitra lokal,'' ujarnya.Altimo adalah perusahaan investasi yang berbasis di Persemakmuran Negara-negara Merdeka, yakni negara-negara pecahan Uni Soviet dan Turki.

Perusahaan yang diluncurkan di London, 1 Desember 2005, itu bergerak di bidang investasi telekomunikasi.Sebelumnya, Altimo dikenal dengan nama Alfa Telecom, di bawah naungan Konsorsium Alfa Group. Konsorsium ini merupakan konglomerasi milik swasta terbesar di Rusia. Saat ini, Altimo memegang peran kunci pasar telekomunikasi di Eurasia, dengan perusahaan investasi yang beroperasi di Rusia, Ukraina, Kazakstan, Uzbekistan, Kyrghyzia, Tajikistan, Georgia, dan Turki.Altimo mengendalikan aset senilai US$ 14 milyar, termasuk pemilik saham di operator mobile terkemuka di Rusia, Turki, dan negara-negara CIS. Lebih dari 136 juta pelanggan menggunakan servis komunikasi mobile yang disediakan operator-operator yang sahamnya dimiliki Altimo.Aset-aset Altimo, antara lain, operator seluler VimpelCom dan MegaFon di Rusia, Kyivstar yang menjadi operator seluler terbesar di Ukraina, serta Turkcell di Turki dan oparator GSM Sky Mobile di Kirgiztan.

Kini mereka siap membidik India, Vietnam, dan Indonesia.Masuknya Altimo ke Indonesia makin menambah kuat cengkeraman investor asing di bisnis telekomunikasi. Namun, menurut juru bicara Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Gatot Dewa Broto, pemerintah tidak akan membiarkan penguasaan asing di telekomunikasi Indonesia. Ia menegaskan bahwa kepemilikan saham asing di Indonesia dibatasi maksimal 35%. Hal itu mengacu pada ketentuan Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Bagaimana dengan STT Singapura yang menguasai saham Indosat hingga 42%? ''Hal itu dimungkinkan lantaran hubungan bilateral Indonesia dengan Singapura, dan disetujui oleh WTO,'' kata Gatot berkelit. Contoh lain, hubungan Indonesia-Jepang yang ''harmonis'' memungkinkan perusahaan ''negeri sakura'' itu berinvestasi di Indonesia hingga 40% lebih. ''Karena ada perjanjian bilateral antarkedua negara,'' ungkap Gatot.
Heru Pamuji, Mukhlison S. Widodo, dan Rach Alida Bahaweres

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar