Senin, Februari 19, 2007

BUKU
Karena Tuhan Menggendongnya

Memoar yang menyajikan perdebatan akademis, berargumentasi nalariah. Berkisah tentang interaksi penulis dengan sejumlah tokoh kunci di republik ini.
DIA DAN AKU, MEMOAR PENCARI KEBENARANPenulis: Daoed JoesoefPenerbit: Kompas, Jakarta, 2006, viii + 928 halaman.

Dia dan Aku. Sebuah judul yang sederhana. Terkesan apa adanya. Tetapi anggapan itu sirna setelah membaca lembar demi lembar buku karya Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Pembangunan III (1978-1983), ini.Memoar, bagi Daoed, bukanlah sekadar ingatan kembalinya gambaran samar. Melainkan sebuah proses yang konstruktif. Proses penyusunan memoar ini tidak cukup dengan memungut data yang tercerai-berai dari pengalaman masa lalu. Ia menghimpun ulang, menata, dan kemudian merangkainya.Penuturan dalam memoar ini menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal: ''dia''. Nah, si ''dia'' ini berinteraksi dengan sang penulis memoar yang disebut ''aku''. ''Dia'' yang dimaksud adalah tokoh yang memiliki kenangan dengannya, seperti Nek Darinah dan Uak Raiman.Juga sejumlah seniman, macam Soedjojono, Affandi, Trubus, Chairil Anwar, Tino Sidin, dan Nasyah Djamin. Ada pula Monsieur Courazier, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sumitro Djojohadikusumo, Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani, Soeharto, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Bung Tomo, dan Djamaludin Malik.

Daoed mengisahkan bagaimana berinteraksi dengan para ''dia'' itu. Ia, misalnya, menceritakan pengalamannya saat dipinang menjadi menteri oleh Presiden Soeharto. Peristiwa itu terjadi pada 22 Maret 1978. Tepat pukul 14.50, ia menerima telepon dari ajudan Presiden Soeharto yang memintanya datang ke Jalan Cendana, Jakarta Pusat, pukul 19.00.Pembicaraan selama 30 menit itu lebih terfokus pada bidang pendidikan dan penerangan. Dua bidang yang menurut Pak Harto terbengkalai dan tidak digarap dengan baik. Pembicaraan demi pembicaraan berlanjut.

Akhirnya terlontar pertanyaan dari Presiden Soeharto.''Sekarang saya tanyakan kesediaan Doktor Daoed untuk membantu saya di bidang pendidikan dan kebudayaan. Apakah Saudara Daoed bersedia?'' tanya Pak Harto dengan nada lembut. Tentu saja Daoed Joesoef, yang mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi menteri, tak kuasa menolak tawaran Presiden Soeharto.

Sebab, baginya, posisi menteri adalah jabatan politis. Sedangkan ia membenci politikus. Kebenciannya pada politikus bermula pada persepsi setelah melihat sepak terjang para politikus sesudah penyerahan kedaulatan. Politikus dianggap berebut kekuasaan.Demi kekuasaan, mereka bisa menguasai aset yang ditinggalkan Belanda berupa perkebunan, pabrik, gedung, bungalo, dan lain-lain.

Daoed bertekad, kalaupun masuk kabinet, tidak akan berbuat seperti teknokrat. Baginya, de toute facon, etre minister est une experience philosophique, menjadi menteri adalah pengalaman filosofis.Daoed mengungkapkan, interaksinya dengan Tuhan merupakan hasil campur tangan Emak.

Emak, baginya, adalah manusia yang pertama kali menyebut secara eksplisit kata ''Tuhan''. Maka, dengan bertambahnya pengetahuan agama, ilmu, dan usia, ia semakin sadar, jauh lebih mudah berbicara dengan Tuhan daripada berbicara mengenai Tuhan.Karena itu, ia makin rajin mengikuti pembahasan tentang ketuhanan ketika kuliah di Sorbonne, Prancis. Ia mendalami buku-buku yang mengkaji tentang makna ketuhanan. Menurut dia, belum ada definisi yang adekuat tentang Tuhan. Jadi, baginya, tidak mengherankan jika setiap ateis dapat menyanggah eksistensi Tuhan.Namun ada juga orang ateis dan agnostik yang hidupnya sopan dan mengundang respek.

Rangkaian pengalaman hidup Daoed membuatnya merenung, karena baginya, kejadian itu too good to be true. Setidaknya, tiga kali ia terhindar dari bahaya dalam berbuat sesuatu berkat adanya ''kebetulan''.Ia menganggapnya sebagai gendongan Tuhan. Salah satunya di Medan, beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Kala itu, muncul tentara NICA (Netherland's Indies Civil Administration) yang menduduki checkpoints di berbagai jalan penting.Seorang kenalannya, Aman Noh dari Gayo Alas, memintanya mencarikan senjata. Keinginan itu lantas ia sampaikan pada temannya, Siin Irawadhy. Maka, dimulailah petualangan menyusupkan senjata dari Medan Timur ke Medan Barat.

Penyelundupan dilakukan dengan memasukkan senjata ke peti mayat.Awalnya ia ragu karena sedang menyiapkan pameran lukisan kolektif untuk fund raising. Selain itu, ia takut mati. Sebab, jika ketahuan membawa senjata, ia pasti disiksa tentara NICA, mungkin saja sampai mati. Toh, penyelundupan sejata itu berhasil juga. Hal itu, menurut dia, karena Tuhan menggendongnya.
Rach Alida Bahaweres

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar